Namun, menurutnya, Kios Angalai menghadirkan pelajaran paling nyata tentang keberhasilan arsitektur sederhana.

“Kios Angalai adalah bangunan kecil tanpa ambisi monumental, tetapi memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak proyek besar, yaitu keberhasilan dalam kesederhanaannya,” ujar sosok kelahiran Kupang, 27 Februari 1971 ini.

Ruang Sempit, Fungsi Maksimal

Menurutnya, Kios Angalai merupakan kios pedagang kaki lima yang banyak ditemukan di Kota Kupang dan umumnya dimiliki oleh masyarakat etnis Sabu. Prof Linda mencatat terdapat hampir 300 unit kios tersebar di berbagai sudut kota.

Iklan

Dengan luas sekitar 3 meter persegi, kios berbentuk panggung ini menggabungkan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai tempat tinggal dan tempat usaha. Bahkan, banyak di antaranya bertahan hingga lebih dari dua dekade.

“Bandingkan dengan Pruitt-Igoe yang megah, tetapi tidak mampu bertahan lama,” ungkapnya.

Tumbuh dari Kebiasaan dan Budaya

Berbeda dengan proyek arsitektur modern yang dirancang secara top-down, Kios Angalai berkembang secara organik dari praktik kehidupan sehari-hari. Keterbatasan ruang justru mendorong terbentuknya pola interaksi yang jelas, rasa memiliki, serta tanggung jawab terhadap ruang.