Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Ruang dan bangunan memang terlihat secara kasat mata, tetapi jiwa manusia yang tidak terlihat justru menjadi unsur yang menghidupkannya,” kata alumnus Universitas Gadjah Mada ini.
Ia menambahkan, seorang arsitek tidak cukup hanya memahami aspek bentuk, struktur, dan keindahan, tetapi juga harus mampu memahami aspek psikologis manusia sebagai pengguna ruang.
Dalam konteks ini, Prof Linda menyoroti pentingnya pendekatan psikologi dalam arsitektur. Ia menjelaskan bahwa ilmu psikologi, khususnya pendekatan perilaku, membantu menjembatani pemahaman tentang aspek kejiwaan manusia yang sulit diukur secara langsung.
Pendekatan ini melihat perilaku sebagai respons terhadap stimulus lingkungan, termasuk ruang yang dirancang oleh manusia. Perilaku tersebut tidak hanya berupa tindakan yang tampak, tetapi juga mencakup proses internal seperti motivasi, imajinasi, hingga rasa memiliki.
“Pendekatan ini kemudian melahirkan kajian arsitektur dan perilaku, yang memandang arsitektur sebagai relasi antara manusia dan lingkungan binaan, bukan sekadar persoalan bentuk,” jelas mantan Pembantu Dekan FST Undana 2010-2014 ini.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ruang berperan sebagai medium interaksi yang memengaruhi cara manusia bergerak, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Konsep ini dikenal dengan istilah affordances, yaitu peluang tindakan yang ditawarkan oleh lingkungan kepada manusia.
