Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dalam pemaparannya, Prof Linda menjelaskan bahwa Pruitt-Igoe dibangun pada 1955–1956 di atas lahan sekitar 23 hektar dengan 33 gedung rumah susun setinggi 11 lantai dan total 2.870 unit hunian. Proyek ini dirancang oleh arsitek ternama Minoru Yamasaki dan sempat dipuji sebagai solusi ideal untuk krisis perumahan pasca-Perang Dunia II.
Bahkan, pada 1961, proyek tersebut menerima penghargaan dari The American Institute of Architects (AIA). Namun, kejayaan itu tidak berlangsung lama.
“Dalam waktu kurang dari dua dekade, kawasan ini mengalami kemunduran drastis, baik secara sosial maupun fisik,” ungkapnya.
Pruitt-Igoe kemudian dikenal sebagai kawasan dengan tingkat vandalisme dan kriminalitas tinggi, kerusakan fasilitas, serta konflik sosial yang meluas. Pada 1968, pemerintah Amerika Serikat akhirnya memberikan izin pembongkaran, dan seluruh kompleks tersebut diratakan dengan tanah pada 1976.
Kritikus arsitektur Charles Jencks bahkan menyebut peristiwa ini sebagai “hari matinya arsitektur modern”.
Gagal Memahami Perilaku Manusia
Prof Linda menegaskan bahwa kegagalan Pruitt-Igoe tidak semata-mata terletak pada aspek teknis bangunan, melainkan pada ketidakmampuan desain dalam memahami perilaku manusia.
