Kupang, RakyatNTT.ID – Ketika negara keliru, apakah gereja masih berani bersuara? Dan ketika rakyat menderita, apakah gereja cukup hanya menyampaikan kritik?

Pertanyaan tersebut akan menjadi salah satu pokok pembahasan dalam dialog publik yang digelar Persekutuan Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Theologi Jakarta Nusa Tenggara Timur (PASTIJA NTT), Jumat, 4 September 2026.

Dialog bertajuk “Gereja dan Negara: Dari Suara Kenabian Menjadi Tanggung Jawab Bersama” itu berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada pukul 15.00–17.30 WITA dan terbuka untuk masyarakat umum secara gratis.

Forum ini mempertemukan tiga figur dari latar teologi, gereja dan politik. Mereka adalah Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe, teolog, alumni STFT Jakarta sekaligus anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Ir. Emilia J. Nomleni, Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur; serta Pdt. Samuel Pandie, M.Th, Ketua Majelis Sinode GMIT.

Diskusi akan dipandu Tony Wijaret Fangidae, Ph.D. sebagai moderator.

Gereja Tak Boleh jadi Alat Legitimasi Kekuasaan

Ketua PASTIJA NTT, Pdt. Desiana Effendy, M.Th, mengatakan dialog tersebut sengaja dibawa ke ruang publik karena relasi gereja dan negara tidak seharusnya berhenti pada perdebatan teologis maupun politik.