Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jika Pruitt-Igoe runtuh meski megah dan modern, maka Kios Angalai justru bertahan dalam kesederhanaan karena dibangun berdasarkan kebiasaan dan nilai budaya.
“Yang megah bisa gagal, yang sederhana bisa berhasil. Bukan karena modern atau tradisional, tetapi karena apakah arsitektur itu memahami perilaku manusia atau tidak,” tegasnya.
Implikasi bagi Dunia Arsitektur
Dari temuan tersebut, Prof Linda menekankan pentingnya pendekatan berbasis perilaku dalam pendidikan dan praktik arsitektur. Ia menyebut bahwa arsitektur tidak hanya soal estetika dan teknik, tetapi juga tentang empati dan pemahaman terhadap manusia.
Mahasiswa arsitektur, menurutnya, perlu dibekali tidak hanya dengan sense of aesthetic, tetapi juga sense of humanity untuk memahami konteks sosial dan budaya pengguna ruang.
Lebih luas, ia juga menilai bahwa local wisdom atau kearifan lokal memiliki keunggulan karena lahir dari kebiasaan dan nilai yang telah teruji dalam komunitas.
“Perilaku membentuk kebiasaan, kebiasaan membentuk budaya, dan dari situlah lahir kearifan lokal. Ini yang membuatnya bertahan,” jelasnya.
Prof Linda menutup dengan menegaskan bahwa arsitektur sejatinya bukan hanya tentang membangun fisik, tetapi menghadirkan ruang yang mampu menghidupkan manusia.
