Dalam sambutannya, Wakil Bupati Nagekeo menegaskan bahwa persoalan air kini menjadi masalah serius di hampir seluruh wilayah Nagekeo.

“Bicara air bukan lagi masalah mudah, tetapi sudah menjadi sulit. Hampir semua wilayah di Kabupaten Nagekeo mengeluh tentang air, padahal Boawae dulu dikenal sebagai gudangnya air,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, berbagai dampak negatif telah dirasakan akibat kelalaian manusia dalam menjaga kelestarian lingkungan, mulai dari berkurangnya debit mata air, rusaknya daerah tangkapan air, hingga pencemaran lingkungan.

Iklan

Menurutnya, persoalan ketersediaan air bersih tidak bisa dibiarkan berlarut-larut dan harus segera ditangani melalui gerakan nyata pelestarian lingkungan dengan semangat To’o Jogho Waga Sama.

“Kalau kita bicara uang, memang kita tidak punya. Tapi yang harus kita mulai sekarang adalah kerja sama dan gotong royong,” tegasnya.

Wabup Gonzalo menekankan bahwa gerakan pelestarian mata air bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan sumber air bagi generasi kini dan mendatang.

“Bambu yang ditanam adalah simbol harapan, simbol kehidupan, dan simbol komitmen bersama menjaga keseimbangan alam,” tambahnya.

Pada kesempatan tersebut, Wakil Bupati Nagekeo secara resmi menetapkan 23 Januari sebagai Hari Gerakan Pelestarian Mata Air Tingkat Kabupaten Nagekeo. Ia juga menginstruksikan agar seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) terlibat aktif dalam kegiatan penghijauan.