Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa impresif sepanjang pekan ini di tengah tekanan yang dialami dolar Amerika Serikat (AS).
Ketegangan geopolitik di kawasan Barat serta meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi faktor utama yang menopang penguatan mata uang Asia, termasuk rupiah.
Mengacu pada data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (23/1/2026), rupiah menguat 0,41% ke level Rp16.810 per dolar AS. Capaian tersebut menjadi posisi penutupan terkuat rupiah sejak 9 Januari 2026 atau dalam dua pekan terakhir.
Secara point-to-point, rupiah tercatat menguat 0,41% sepanjang pekan ini, menandakan sentimen positif yang cukup konsisten di pasar valuta asing domestik.
Tak hanya rupiah, mayoritas mata uang Asia juga bergerak menguat terhadap dolar AS. Dari seluruh mata uang kawasan, hanya rupee India yang mencatat pelemahan dengan koreksi mencapai 1,07% dalam sepekan. Sementara itu, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi setelah melonjak 1,85%, disusul yen Jepang yang menguat 1,51%.
Penguatan mata uang Asia terjadi seiring melemahnya dolar AS. Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat anjlok 0,92% ke level 97,45 pada akhir pekan. Dalam sepekan terakhir, indeks dolar bahkan telah merosot hingga 1,95%.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

