Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
BAGI Generasi Z yang terlahir sejak tahun 1997-2012, istilah media sosial tidak begitu asing di telinga mereka. Survei tahun 2025 membuktikan bahwa sebagian besar manusia di era ini menggunakan media sosial. Adagium berikut pun tak dapat dihindari: “hidup tanpa media sosial adalah mati”.
Sebagai bagian dari media sosial, tik-tok menjadi salah satu aplikasi favorit yang tengah ramai digunakan. Konten yang disuguhkan menarik hati gen z hingga menguras waktu dan tenaga untuk menscroll layar secara terus-menerus. Tentunya hal ini tidak baik. Imbasnya kepada kematian. Lantas kematian seperti apa?
Pertama-tama haruslah disadari bahwa generasi z saat ini tengah menghidupi budaya scrolling. Dari namanya sendiri, budaya scrolling dapat diartikan sebagai suatu kebiasaan untuk menggeser layar dalam video tertentu. Budaya ini lahir setelah aplikasi tik-tok diresmikan secara universal.
Dampak dari budaya ini pun merebak ke kalangan gen z setelah digunakan. Alhasil, secara tidak sadar gen z membuka dirinya untuk memasuki fenomena kejatuhan dalam dunia scrooll. Akibatnya terjangkit pada lemahnya efektivitas dalam me-manage waktu. Gen z membuang waktunya untuk hal yang tidak berguna bagi masa depannya.
Rangkaian penjelasan ini menguak fakta bahwa sebenarnya budaya scrolling menyebabkan ketergantungan. Kelebihan kadar akan ketergantungan bisa berakibat fatal pada tumbuh kembang gen z. Di satu titik kematian bisa saja terjadi.
Dalam konteks ini, kematian yang dimaksudkan bukanlah kematian secara jasmani, tetapi lebih kepada kematian esensi dan otak. Pada taraf esensi, Gen Z sebagai makhluk sosial (zoon politicon) kehilangan jati dirinya. Budaya scrooll yang ditawarkan menyebabkan matinya komunikasi sebagai esensi dasar dari keberadaan manusia.
Di saat yang bersamaan, budaya scrooll melemahkan kemampuan berpikir otak. Bahkan, efek terburuknya adalah menyusutkan volume otak hingga kemampuan untuk mengingat dan berpikir secara kritis mulai hilang dengan sendirinya. Otak sebagai bagian dari keutamaan manusia pun kehilangan esensinya. Di saat inilah otak telah mati.
Menyikapi fenomena ini, Gen Z seharusnya menumbuhkan kesadaran yang utuh akan bahaya media tik-tok sejak saat ini. Sebagai penerus bangsa, mereka tidak sepatutnya mati hanya karena budaya scrolling. Kematian pada kenyataannya tidak disebabkan oleh diri sendiri, melainkan karena kehendak sang pencipta.
Maka dari itu, pentinglah sikap untuk membatasi diri terhadap penggunaan tik-tok. Gen z harus lebih memusatkan diri kepada kehadiran riil sesama serta mencoba untuk berkomunikasi yang juga mengasah kemampuan otak. Merekalah pilar dari keberadaan manusia sebagai makhluk yang hidup. Keberadaan mereka mengisi serta memperbaiki kehidupan gen z demi masa depan yang cerah. (*)
