Unimor tidak lahir dari laboratorium kebijakan Jakarta. Ia tumbuh dari sejarah panjang perjuangan akar rumput, dari luka sejarah dan harapan masyarakat perbatasan yang melihat pendidikan sebagai jalan merdeka dari ketertinggalan. Karena itu, misi pendirian Unimor sebagai bagian dari konsekuensi politik pascareferendum Timor Timur 1999 tidak boleh dilupakan yakni menghadirkan pendidikan untuk memuliakan manusia, menjembatani keterbatasan ilmu, dan mengikis kemiskinan di kawasan perbatasan.

Sesungguhnya universitas bukanlah tempat menumbuhkan rezim tarif. Ia adalah ruang mendewasakan nalar kritis dan memuliakan nurani. Jika Unimor hendak berbenah, mari mulai dari prinsip: transparansi, partisipasi, dan keberpihakan pada mereka yang selama ini diam-diam menaruh harapan yakni generasi muda dari pelosok NTT yang percaya bahwa kampus bukanlah tempat pungutan yang mengagungkan status, tetapi ruang perubahan yang membebaskan. (*)