Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ketiga, kasus “Kamis kelabu 28/8” karena itu menjadi ujian komprehensif yang tengah dihadapkan bukan pada Kosmas tetapi justru pada Sigit. Ia menjadi ujian penting untuk mengukur sejauh mana konsep polri presisi yang diungkapkan saat dilantik 21/1/2021 (hampir 5 tahun lalu) bisa dibuktikan dalam tragedi ini. Itu berarti tangisan Kosmas hanya tetesan air mata yang meminta polisi menjadi lebih presisi dalam semua makna.
Bila harapan ini kita letakkan dalam filsuf asal Rumania Emile M. Cioran (1911-1995) yang gaya tulisannya menggabungkan gaya tulisannya yang menggabungkan nuansa reflektif, nihilis, aforis dan pesimis, maka terdapat jawaban yang menghentak kesadaran. Baginya sebuah kebenaran biasanya dimulai dengan konflik dengan polisi dan berakhir dengan memanggil mereka. Itu berarti tragedi demontrasi yang berakhir kematian Affan bisa membuka pintu terhadap kebenaran. Karena itu panggilan tidak berhenti pada Kosmas tetapi menjadi ujian bagi Sigit. (*)
