Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026).

Mata uang Garuda menguat 18 poin atau sekitar 0,10 persen ke level Rp18.091 per dolar AS, setelah mendapat dorongan dari kombinasi sentimen global dan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah terjadi di tengah meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya kebijakan terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran.

Menurut Ibrahim, Trump berencana kembali memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran menyusul meningkatnya ketegangan militer dengan Teheran.

Selain itu, pemerintah AS juga akan mengenakan biaya sebesar 20 persen terhadap kapal kargo yang melintasi Selat Hormuz untuk menutup biaya pengamanan jalur pelayaran strategis tersebut.

“Militer AS akan mulai memberlakukan blokade mulai Selasa dengan menargetkan lalu lintas kapal yang terkait dengan Iran, sementara pengiriman komersial netral tetap diizinkan melintasi jalur tersebut,” ujar Ibrahim dalam risetnya.

Ketegangan Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasar

Ketegangan yang kembali memanas memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Selat Hormuz diketahui menjadi jalur distribusi sekitar seperlima konsumsi minyak global sehingga setiap gangguan berpotensi mendorong lonjakan harga minyak.