Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
KEMATIAN Affan Kurniawan akibat dilindas kendaraan taktis (rantis) pada Kamis 28/9 telah menjadi pemicu pelbagai reaksi menyusul. Tak hanya itu. Hanya dalam hitungan hari, sidang Etik telah menerima Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) untuk Kompol Kosmas Kaju Gae.
Terhadap pemberhentian itu sekilas bisa diterima. Dalam kepemimpinan, berlaku ungkapan ini: Leaders believe the subordinate’s failure is the leader’s failure, the subordinate’s mistake is the leader’s mistake. Kegagalan dan kesalahan bawahan adalah kegagalan dan kesalahan pemimpin. Adagium ini dalam dunia kemiliteran dan kepolisan tentu ditafsir lebih keras lagi. Sampai pada titik ini kita bisa paham, mengapa Kosmas diberhentikan.
Yang jadi pertanyaan, apakah adagium ini juga berlaku dalam keadaan gawat-darurat? Bagaimana memahaminya ketika orang berada dalam tekanan seperti dalam sebuah aksi demo anarkis?
Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Pengambilan keputusan di tengah suasana yang masih keruh seperti yang terjadi dengan Sidang Etik, di satu pihak bisa saja disebut sangat responsif. Tetapi ketika dikaji lebih jauh, meninggalkan pertanyaan yang masih terbuka untuk dibahas.
Identifikasi Tanda Bahaya
Dalam menganalisis situasi demo yang terjadi pada Kamis 28/8, hal paling penting dikaji adlaah sejauh mana identifikasi tanda-tanda bahaya itu terjadi. Ketika terjadi perilaku anarkis oleh kerumunan yang bersifat agresif, pengambilan keputusan menjadi tidak mudah. Di satu pihak susana kacau berupa pengrusakkan fasilitas umum menandakan adanya alam tentang potensi kekacauan. Hal itu belum terhitung adanya aneka ancaman terhadap para penjaga keamanan (polisi) berhadapan dengan ancaman keamanan diri yang dialami secara riil.
