Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Anda sebut saja! Juga dari situ lahir kriminal/teroris; lahir orang yang begitu malas sehingga hidupnya tetap saja miskin walaupun sudah sekolah bertahun-tahun; juga lahir dari situ orang-orang yang begitu rajin dan menjadi kaya raya, tetapi amat sangat egoistis. Hidup hanya untuk diri sendiri seperti yang digambarkan secara sangat pas oleh Sungging Raga, seorang sastrawan, dalam cerpennya yang berjudul, “Nalea: Tidurlah Nalea. Esok kita abadi” (Kompas, 18 September, 2026, hlm. 22).
Dari SR, kita, tentu, tidak mengharapkan ada output/outcome seperti itu. Kita mau SR lain: dia menghasilkan tamatan yang berdampak positif bagi bangsa ini. Apapun itu. Persoalannya adalah bagaimana caranya supaya SR berdampak positif untuk bangsa ini, untuk membawanya keluar dari kemiskinan, termasuk stunting, keluar dari kungkungan korupsi dan kriminalitas, kemalasan, intoleransi, egoisme yang berlebihan, dan dari berbagai persoalan lainnya.
Caranya, sejatinya, gampang. Gampang sekali malah. Biarkan anak-anak di SR itu belajar sesuai dengan bakat, minat, dan kebutuhan belajarnya (Feliks Tans, Kompas, 28 Desember, 2011, hlm. 7). Kurikulum, yaitu apa yang mereka harus pelajari di sekolah, harus setali tiga uang dengan bakat, minat, dan kebutuhan belajar mereka. Untuk itu, yang perlu guru lakukan adalah berdialog dengan setiap murid untuk mengetahui bakat/talenta, minat dan kebutuhan belajarnya. Begitu bakat, minat dan kebutuhan belajarnya sudah diketahui, biarkanlah mereka berimaginasi. Bermimpi. Mimpi apa? Memimpikan masa depannya yang luar biasa; apapun itu.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan