Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Banyak mahasiswa yang bisa menjelaskan teknologi blockchain atau AI secara teknis, tetapi tidak mampu mengaitkannya dengan konteks sosial, budaya, dan etika yang lebih luas.
Di era yang saling terhubung, mahasiswa dituntut tidak hanya menguasai satu bidang ilmu secara sempit, tetapi mampu melihat hubungan antar-disiplin. Sayangnya, wawasan mahasiswa masih banyak yang bersifat silo, terkotak dalam sekat-sekat keilmuan.
Mahasiswa teknik bisa jadi canggih dalam algoritma, tapi minim pemahaman tentang etika teknologi. Mahasiswa sosial mungkin kritis terhadap isu kebijakan, tapi belum tentu memahami dasar teknologi yang mereka kritik.
Padahal, permasalahan hari ini seperti disinformasi digital, bias algoritmik, perubahan iklim berbasis data, atau keamanan siber menuntut pemikiran lintas disiplin. Oleh karena itu, membangun wawasan interdisipliner adalah hal yang tidak bisa ditunda lagi. Mahasiswa perlu dibekali cara berpikir yang luas: mampu memahami konteks, membangun sintesis, dan mengaitkan beragam perspektif secara bijak.
Masih banyak yang menyamakan literasi digital dengan kemampuan menggunakan aplikasi, mengoperasikan perangkat, atau berselancar di dunia maya. Padahal, literasi digital yang sejati melibatkan kemampuan untuk mengevaluasi informasi, mengenali bias, memahami dampak sosial dari teknologi, serta menyaring pengetahuan yang valid dari yang manipulatif.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan