Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ini bukan sekadar statistik. Ini adalah pesan keras bahwa kepemimpinan bukan pelengkap dalam Pendidikan ia adalah porosnya.
Di sekolah tempat saya meneliti, kepala sekolah tidak hanya mengatur jadwal atau menyelesaikan konflik. Ia membangun budaya. Ia menciptakan ruang aman bagi guru untuk bereksperimen. Ia mengajak komite sekolah duduk bersama, bukan sekadar hadir saat rapat tahunan. Ia membangun rasa memiliki terhadap visi sekolah. Tanpa pemimpin seperti itu, MBS hanya akan jadi papan nama.
MBS: Otonomi yang Menuntut Kematangan
MBS adalah ide besar yang sederhana: desentralisasi pengambilan keputusan ke tingkat sekolah. Sekolah diberi ruang untuk merancang program, mengelola anggaran, hingga mengevaluasi kinerja. Namun, otonomi bukanlah hadiah cuma-cuma. Ia datang bersama tanggung jawab yang besar dan sayangnya, tak semua kepala sekolah siap menanggungnya.
Banyak kepala sekolah di Indonesia masih terjebak pada gaya lama: birokratis, instruksional, top-down. Mereka sibuk dengan dokumen administrasi, takut ambil risiko, dan terlalu bergantung pada petunjuk teknis dari dinas.
Padahal MBS justru menuntut yang sebaliknya. Kepala sekolah harus berani, kreatif, dan partisipatif. Ia harus menjadi pemimpin yang menghidupkan visi dan memberdayakan tim, bukan sekadar mengeksekusi program yang datang dari atas.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan