Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
PERAN seorang guru dalam dunia pendidikan sangatlah fundamental. Seorang guru tidak hanya mentransfer ilmu (mengajar), tetapi juga mengabdi dan membentuk karakter (mendidik). Untuk berhasil dalam peran ini, seorang guru harus menghayati dan memaknai profesinya dengan mendalam. Untuk itu, seorang guru perlu menghidupkan nilai-nilai inti yang menjadi panggilan dan spirit hidupnya. Nilai-nilai inti yang menjadi jiwa panggilannya: kesadaran diri, keteladanan hidup, dan kebiasaan positif.

Mengapa Kesadaran diri, keteladanan hidup dan kebiasaan positif, menjadi gagasan penting dalam konteks pendidikan secara umum dan pendidikan vokasi (SMK) secara khusus? Tentu, ada banyak alasan. Untuk membuktikan pentingnya nilai-nilai itu, penulis membagikan sebuah kisah nyata.
Pada Senin, 5 Agustus 2024, penulis mengunjungi sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK). Sambil menunggu kegiatan simulasi ANBK, penulis terlibat obrolan santai dengan beberapa siswi. Penulis, yang juga mengabdi di SMK, menanyakan dua hal: apakah mereka senang bersekolah di SMK, dan apa cita-cita mereka setelah tamat/lulus.
Jawaban mengenai cita-cita beragam, mulai dari penyuluh pertanian, ahli IT, pebisnis sukses, petani handal, melanjutkan kuliah, bekerja di Australia, hingga menjadi guru. Namun, ketika membahas pertanyaan pertama (kesenangan di sekolah), jawaban mereka-yang terkait dengan pilihan menjadi guru, justru sangat mengejutkan. Para siswa ini curhat secara polos dan jujur mengenai situasi faktual yang mereka alami. Penulis mengutip secara verbatim ucapan mereka: “Jujur, Pak. Di sini aneh, kita datang sekolah kadang guru tidak masuk mengajar. Lebih para lagi, kadang di dalam kelas, kita baru mau panggil guru, tetapi dibilang cari muka dengan guru oleh teman kelas. Padahal, tiap bulan kita bayar uang sekolah. Jujur, Pak. Kami ini orang tua petani. Kasihan orang tua, musim panas begini orang tua di panas, dan kami datang sekolah hanya seperti ini.”



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

