Seorang siswi lain menimpali, membandingkan dengan pengalamannya di SMP: “Benar, Pak. Dulu masih SMP pukul 07:15 guru sudah berada di depan kelas. Siswa tidak ada yang bolos, karena guru ikuti murid dengan baik. Setelah berada di sini, dan kini, hal ini berubah secara total. Kadang guru yang ada jam mengajar tidak mau masuk mengajar. Dan di kelas kami pun sama, guru tidak masuk siswa senang.”

Itulah ungkapan hati dua siswi itu, penulis kutip secara verbatim. Keluhan mereka mengungkap kenyataan pahit, di mana semangat belajar terhambat oleh ketidaksadaran guru. Momen itu mengingatkan dan menyadarkan penulis berefleksi, bagaimana menggerakkan seorang guru agar dapat menghayati panggilannya sebagai guru, dan menunjukkan kesejatiannya sebagai seorang pendidik?

Ungkapan hati para siswi ini, menurut penulis sebagai cerminan kegelisahan mereka terhadap guru yang, kurang menghayati panggilannya sebagai guru. Ada indikasi bahwa guru lebih sibuk dengan kegiatan lain, dan mengabaikan tugas pokok mengajar. Meski ini tidak mewakili semua guru. Pun tidak semua sekolah. Namun, kisah ini sarat makna dan menjadi bahan refleksi dan evaluasi.

Iklan

Dari Kegelisahan tersebut, penulis menggarisbawahi tiga pelajaran utama sebagai pendidik: Pertama, membangun kesadaran diri (self awareness). Guru sejati harus memiliki kesadaran utuh, agar dapat menuntun anak didiknya mencapai cita-cita.