Ia menegaskan, keberhasilan pelatihan harus dapat dilihat dari perubahan dan usaha nyata yang muncul setelah peserta kembali ke lingkungan masing-masing.

“Jangan sampai setelah pelatihan kita tidak mengalami perkembangan sama sekali. Apa yang dipelajari harus langsung dipraktikkan. Serius belajar, serius bekerja dan harus rajin bertanya. Saya berharap setelah pelatihan ini ada hasil yang bisa kita lihat dan dirasakan,” tegasnya.

Selain pelatihan, ia menilai pendampingan berkelanjutan juga diperlukan. Monitoring dan evaluasi menjadi penting untuk memastikan usaha yang dirintis peserta tidak berhenti setelah kegiatan berakhir.

Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, lanjutnya, akan terus mendorong terbentuknya ekosistem usaha yang sehat melalui penguatan UMKM, koperasi, akses pasar, peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Kita ingin masyarakat di kawasan transmigrasi bukan hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi di wilayahnya sendiri,” tandas Thobias.

Ia berharap sinergi antara Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dan BPPMT Denpasar terus diperkuat sehingga program peningkatan kapasitas masyarakat dapat dilakukan secara berkelanjutan.