Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua melihat bahwa kawasan transmigrasi memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Namun, potensi tersebut harus dikelola secara baik, kreatif dan berkelanjutan,” katanya.
Thobias menegaskan, pelatihan kewirausahaan tidak boleh berhenti pada penyampaian teori. Lebih dari itu, pelatihan harus mampu membentuk pola pikir kewirausahaan, keberanian menangkap peluang, kreativitas dan kemampuan membangun usaha yang mandiri.
Ia pun meminta peserta melihat berbagai komoditas lokal sebagai peluang ekonomi.
“Sabu Raijua memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat, seperti bawang merah, mangga udang, jambu mete dan berbagai produk lokal lainnya. Kalau kita mampu mengolahnya dengan baik, tentu akan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi,” ungkapnya.
Lontar Jadi Potensi Ekonomi di Tengah Kemarau
Thobias juga menyinggung kondisi geografis Sabu Raijua yang menghadapi musim kemarau relatif panjang. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan usaha masyarakat yang bergantung pada sumber daya alam.
“Inilah Kabupaten Sabu Raijua. Karena itu, saya sangat berharap kegiatan dan pelatihan seperti ini terus dilakukan. Kalau memungkinkan, sebelum menutup tahun anggaran, kegiatan seperti ini dapat dilakukan lagi. Kami siap menerima program dan pelatihan seperti ini,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan