Meski menghadapi kekeringan, menurut Thobias, masyarakat Sabu Raijua tetap memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan, salah satunya pohon lontar.

“Di tengah kekeringan seperti ini, Sabu Raijua tetap diberkati dengan pohon lontar sebagai pohon kehidupan orang Sabu. Karena itu, Sabu Raijua dikenal sebagai daerah sejuta lontar,” ujarnya.

Ia menilai lontar bukan hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi yang besar.

Iklan

Air lontar, misalnya, dapat dikonsumsi langsung maupun diolah menjadi berbagai produk seperti gula Sabu, gula semut, gula lempeng hingga kacang gula.

Menurutnya, pengolahan tersebut perlu terus didorong melalui kreativitas dan inovasi agar produk lokal memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Pengembangan produk berbasis lontar juga dinilai dapat membuka peluang usaha baru sekaligus menjadi salah satu strategi masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi di tengah kondisi geografis Sabu Raijua.

Wabup Minta Peserta Langsung Praktik

Thobias Uly meminta 30 peserta tidak menjadikan pelatihan sekadar kegiatan formal. Ia mendorong seluruh peserta menyerap ilmu yang diberikan dan langsung mempraktikkannya setelah pelatihan selesai.

“Ikuti pelatihan ini dengan baik. Jangan malu bertanya, jangan takut mencoba dan jangan takut gagal. Seorang wirausahawan harus berani belajar, berani mencoba dan terus melakukan perbaikan,” pesannya.