Kondisi antarwilayah desa juga menunjukkan perbedaan cukup mencolok.

Desa Ledeke tercatat memiliki prevalensi stunting tertinggi, yakni 53,06 persen, dengan 26 balita mengalami stunting.

Sementara Desa Waduwalla memiliki prevalensi terendah, yakni 18,46 persen, dengan 12 balita stunting.

Thobias menegaskan perbedaan data tersebut harus menjadi dasar dalam menentukan prioritas program.

“Data tersebut harus menjadi fokus utama dalam penyusunan rencana. Data harus menjawab pertanyaan: siapa yang harus kita bantu, di mana lokasinya, apa kebutuhannya, dan intervensi apa yang paling tepat?” tegasnya.

Ia meminta program penanganan stunting tidak disusun hanya berdasarkan kebiasaan atau karena program serupa pernah dilakukan sebelumnya.

Setiap intervensi harus berangkat dari masalah nyata dan menghasilkan solusi yang dapat diukur.

Satu Masalah Stunting Butuh Banyak Pihak

Wabup Thobias juga menekankan pentingnya pendekatan lintas sektor dalam penanganan stunting.

Jika persoalan yang ditemukan berkaitan dengan tingginya jumlah ibu hamil berisiko, maka perlu diperkuat pendampingan kehamilan dan pemenuhan kebutuhan gizi.

Sementara jika persoalannya berkaitan dengan air bersih dan sanitasi, penanganannya tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan.