Data yang menjadi perhatian pada perdagangan hari ini antara lain PMI Manufaktur dan JOLTS Job Openings.

Sementara itu, perhatian utama pasar pada pekan ini tertuju pada data ketenagakerjaan AS, khususnya Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis pada Jumat.

Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi pasar dalam membaca arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Iklan

PMI Manufaktur Indonesia Kembali Kontraksi

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kondisi sektor manufaktur Indonesia.

Kinerja manufaktur Indonesia kembali mengalami tekanan pada Agustus 2026. Hal itu tercermin dari S&P Global Indonesia Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) yang turun menjadi 49,8, dari 50,2 pada Juli 2026.

“Penurunan PMI Manufaktur ke bawah ambang batas 50,0 menunjukkan bahwa kondisi operasional sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi setelah sempat mencatatkan ekspansi tipis pada bulan sebelumnya,” kata Ibrahim.

S&P Global mencatat, penurunan PMI manufaktur pada Agustus terutama dipengaruhi kembali melemahnya output dan penyerapan tenaga kerja.

Produksi dan ketenagakerjaan sektor manufaktur Indonesia tercatat mengalami penurunan dalam lima dari enam periode survei terakhir.

Inflasi Indonesia Agustus 2026 Capai 3,19 Persen

Di sisi lain, Indonesia mencatat inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month to month/MtM) pada Agustus 2026. Angka tersebut berbalik dari deflasi sebesar 0,14 persen pada Juli 2026.