Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan awal pekan. Pada Senin (28/9/2026), rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan inflasi domestik, harga minyak, dan arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).
Merujuk data Refinitiv, rupiah pada pembukaan perdagangan Senin terdepresiasi 0,22 persen ke level Rp17.920 per dolar AS.
Pelemahan tersebut membalikkan penguatan tipis rupiah pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Saat itu, rupiah ditutup menguat 0,03 persen ke posisi Rp17.880 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika pasar global masih mencermati arah dolar AS dan imbal hasil surat utang pemerintah AS. Reuters sebelumnya melaporkan rupiah tertekan oleh kenaikan US Treasury yields, penguatan dolar, serta ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan lebih tinggi dalam waktu lebih lama.
Inflasi September jadi Perhatian Pasar
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar pekan ini tertuju pada rilis data inflasi Indonesia periode September 2026 yang dijadwalkan pada Kamis (1/10/2026).
Data tersebut akan mencakup inflasi tahunan, inflasi inti, dan inflasi bulanan.
Perkembangan inflasi menjadi salah satu indikator penting yang akan dicermati pasar dalam melihat ruang kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).
Pada Agustus 2026, inflasi tahunan Indonesia tercatat meningkat menjadi 3,19 persen, dari 2,28 persen pada Juli. Angka tersebut juga berada di atas perkiraan pasar sebesar 3,13 persen.
Inflasi inti turut mengalami kenaikan menjadi 2,92 persen, level tertinggi sejak Maret 2023. Sementara itu, inflasi bulanan pada Agustus tercatat sebesar 0,21 persen.
Data inflasi September akan menjadi perhatian karena dapat memberikan gambaran terbaru mengenai perkembangan tekanan harga domestik.
Inflasi yang tetap terkendali dalam sasaran BI sebesar 1,5-3,5 persen dapat menjadi salah satu faktor yang memberikan ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif. Sebaliknya, apabila inflasi inti kembali meningkat, ruang pelonggaran kebijakan suku bunga dapat menjadi lebih terbatas.
Dolar AS Masih jadi Penentu Pergerakan Rupiah
Selain faktor domestik, pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi dinamika dolar AS di pasar global.
Indeks dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu melemah 0,31 persen ke level 100,971.
Dolar sempat melemah setelah harga minyak dunia turun lebih dari 2 persen dan pelaku pasar melakukan aksi ambil untung setelah greenback menguat selama empat hari berturut-turut.
Pergerakan harga minyak juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan prospek inflasi global dan kebijakan bank sentral.
Di tengah perkembangan geopolitik, harga minyak masih menjadi sumber risiko bagi inflasi. Reuters mencatat pergerakan minyak dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS menjadi faktor penting yang memengaruhi pasar keuangan global.
Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Menguat
Meski DXY sempat terkoreksi, ekspektasi terhadap kebijakan moneter ketat The Fed masih menjadi perhatian pasar.
CME Group pada 25 September mencatat CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober sekitar 66,4 persen. Pasar menggunakan FedWatch sebagai indikator ekspektasi berbasis harga kontrak futures terhadap perubahan suku bunga The Fed.
Ekspektasi tersebut dapat memengaruhi pergerakan aset di pasar negara berkembang, termasuk rupiah, terutama melalui perubahan imbal hasil aset dolar AS dan arus modal global.
Sejumlah pejabat The Fed juga menyoroti risiko inflasi yang masih berada di atas target 2 persen. Perkembangan tersebut membuat pasar terus mencermati data ekonomi AS sebelum mengambil posisi terhadap arah kebijakan bank sentral AS.
Data Ekonomi AS Masih jadi Perhatian
Selain inflasi dan harga minyak, pasar juga akan mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat.
Ketahanan aktivitas ekonomi AS dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Jika data ekonomi menunjukkan aktivitas dunia usaha dan permintaan tetap kuat, pasar dapat memperkirakan suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.
Kondisi tersebut berpotensi menjaga daya tarik aset berbasis dolar AS sekaligus menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor di pasar negara berkembang.
Dengan demikian, pergerakan rupiah pada awal pekan ini akan sangat bergantung pada kombinasi sentimen domestik dan global. Dari dalam negeri, pasar menunggu data inflasi September, sementara dari eksternal perhatian tertuju pada dolar AS, harga minyak, imbal hasil US Treasury, serta ekspektasi kebijakan The Fed.
Perkembangan sejumlah indikator tersebut akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah perdagangan rupiah hingga akhir pekan. (*/rnc)






WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan