Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Jakarta, RakyatNTT.ID — Nilai tukar rupiah mencoba bangkit terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (18/9/2026). Mata uang Garuda mendapat ruang penguatan setelah indeks dolar AS atau DXY mengalami koreksi tipis.
Mengacu data Refinitiv, rupiah dibuka menguat 0,21 persen ke level Rp17.710 per dolar AS.
Penguatan tersebut menjadi pembalikan sementara setelah rupiah pada perdagangan Kamis (17/9/2026) ditutup melemah 0,41 persen ke posisi Rp17.747 per dolar AS.
Pada pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tercatat turun tipis 0,01 persen ke level 100,237.
Meski terkoreksi, DXY masih bertahan di atas level psikologis 100.
Dolar AS Mulai Kehilangan Tenaga Usai Keputusan The Fed
Pergerakan rupiah pada perdagangan terakhir pekan ini masih akan dipengaruhi perkembangan ekonomi global, terutama arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Dolar AS mulai kehilangan tenaga setelah sebelumnya menguat tajam menyusul keputusan Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen-4,00 persen.
Koreksi dolar AS juga terjadi bersamaan dengan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta meredanya harga minyak dunia.
Tambahan pengiriman minyak mentah Arab Saudi melalui Oman turut mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi.
Kondisi tersebut memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat pada awal perdagangan Jumat.
Namun, penguatan rupiah masih menghadapi tantangan karena dolar AS tetap berada di level yang relatif tinggi.
Ekspektasi Suku Bunga Jadi Perhatian Investor
Pasar juga mencermati perbedaan antara proyeksi pejabat The Fed dan ekspektasi pelaku pasar mengenai arah suku bunga ke depan.
Pejabat The Fed memperkirakan masih terdapat satu kali kenaikan suku bunga tambahan pada 2026, sementara tidak ada perubahan suku bunga yang diproyeksikan pada 2027.
Sebaliknya, investor memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga yang lebih agresif, yakni lebih dari satu kali hingga akhir 2026 dan sekitar tiga kali tambahan hingga akhir 2027.
Perbedaan ekspektasi tersebut membuat pergerakan dolar AS masih berpotensi mengalami volatilitas.
Bagi rupiah, perubahan ekspektasi suku bunga AS menjadi salah satu faktor penting karena dapat memengaruhi arus modal global, imbal hasil aset keuangan, serta permintaan terhadap dolar AS.
Pasar Menanti Data APBN KiTa Agustus 2026
Dari dalam negeri, perhatian investor akan tertuju pada konferensi pers Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) KiTa yang dijadwalkan berlangsung Jumat.
Konferensi pers tersebut akan membahas realisasi pendapatan dan belanja negara hingga Agustus 2026 dan menjadi momentum penting bagi pasar untuk melihat kondisi fiskal Indonesia.
Investor akan mencermati perkembangan penerimaan negara, belanja pemerintah, hingga pembiayaan utang.
Data realisasi APBN hingga Agustus juga dapat menjadi gambaran mengenai kondisi fiskal Indonesia hingga akhir 2026, termasuk kemampuan pemerintah menjaga defisit dan membiayai berbagai program prioritas.
Dengan kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat masih berpotensi berlangsung dinamis. Pelemahan dolar AS dapat memberikan ruang penguatan bagi rupiah, tetapi arah kebijakan The Fed dan kondisi fiskal domestik tetap menjadi perhatian utama pasar. (*/rnc)






WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan