Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Karena itu, PASTIJA NTT ingin mendorong percakapan yang tidak hanya berhenti pada pertanyaan mengenai apakah gereja harus dekat atau jauh dari negara.
“Yang jauh lebih penting adalah: ketika kekuasaan menyimpang, apakah gereja masih berani bersuara? Dan ketika rakyat membutuhkan pertolongan, apakah gereja bersedia ikut bekerja? Di titik itulah suara kenabian bertemu dengan tanggung jawab bersama,” tegas Desiana.
Menurutnya, gereja perlu tetap memiliki independensi dan daya kritis terhadap kekuasaan. Namun, independensi tersebut tidak berarti gereja harus menutup diri dari kerja sama dengan pemerintah maupun berbagai elemen masyarakat.
Kolaborasi dapat dilakukan selama kepentingan rakyat, kemanusiaan dan keselamatan masyarakat menjadi tujuan utama.
Gereja Harus Tetap Berpihak kepada Kebenaran dan Rakyat
PASTIJA NTT berharap dialog ini menjadi ruang perjumpaan yang sehat antara teologi, gereja, politik dan realitas kehidupan masyarakat.
Gereja diharapkan mampu menjalankan fungsi profetiknya dengan tetap kritis terhadap kebijakan maupun praktik kekuasaan yang menyimpang. Di sisi lain, gereja juga didorong untuk mengambil bagian dalam kerja nyata ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan