Jakarta, RakyatNTT.ID — Harga emas dunia kembali bertenaga pada perdagangan Kamis (17/9/2026) waktu Amerika Serikat atau Jumat pagi, 18 September 2026 WIB. Harga emas spot melonjak 2,3 persen dan berhasil bangkit dari level terendah dalam hampir enam pekan.

Mengutip laporan Reuters, harga emas spot naik 2,3 persen menjadi US$4.360,36 per troy ounce. Sementara itu, emas berjangka AS untuk kontrak Desember ditutup naik 0,3 persen ke US$4.399,70 per troy ounce.

Penguatan tersebut terjadi setelah pasar mencerna keputusan terbaru Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga pada Rabu (16/9/2026), sekaligus memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin dilakukan dalam beberapa bulan mendatang.

Iklan

Harga Minyak Turun, Dolar AS Melemah

Salah satu katalis utama penguatan emas adalah penurunan harga minyak dunia yang berlanjut untuk hari kedua. Harga minyak turun ke level terendah dalam sekitar sepekan seiring meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan.

Penurunan harga energi turut mengurangi tekanan inflasi yang sebelumnya menjadi perhatian investor. Kondisi tersebut ikut memberikan ruang bagi emas untuk bangkit setelah mengalami tekanan pada sesi sebelumnya.

Di sisi lain, indeks Dolar AS melemah dari level tertinggi dalam tujuh pekan. Pelemahan greenback membuat emas yang dihargai dalam Dolar AS menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Faktor lain yang mendukung emas adalah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun. Yield yang lebih rendah mengurangi keunggulan relatif aset berbunga dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil tetap.

Pasar Masih Mencermati Kebijakan The Fed

Pergerakan emas kali ini terjadi hanya sehari setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75 persen-4 persen. Keputusan tersebut disetujui secara bulat oleh anggota Federal Open Market Committee (FOMC).

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan fokus bank sentral AS terhadap pengendalian inflasi. Proyeksi terbaru The Fed juga menunjukkan bahwa sebagian besar pejabat melihat kemungkinan masih dibutuhkannya kenaikan suku bunga tambahan pada 2026.

Meski kenaikan suku bunga secara umum dapat menekan emas karena meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil, reaksi pasar pada perdagangan Kamis justru menunjukkan pemulihan harga bullion.

Pasar juga memperhitungkan bahwa sebagian tekanan dari ekspektasi kenaikan suku bunga telah tercermin dalam harga sebelum keputusan The Fed diumumkan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar pada Kamis memperkirakan probabilitas sekitar 51 persen untuk kenaikan suku bunga berikutnya pada pertemuan Oktober, meningkat dari sekitar 44 persen sehari sebelumnya.

Perak hingga Paladium Ikut Menguat

Penguatan tidak hanya terjadi pada emas. Sejumlah logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan signifikan.

Harga perak spot melonjak 4,2 persen menjadi US$65,60 per troy ounce. Sementara platinum naik 1,8 persen ke level US$1.783,69 per troy ounce.

Adapun harga paladium menguat 1,6 persen menjadi US$1.289,45 per troy ounce.

Pergerakan tersebut menunjukkan pasar logam mulia masih sangat sensitif terhadap perubahan Dolar AS, harga energi, imbal hasil obligasi, serta arah kebijakan bank sentral global.

Bank of England pada Kamis mempertahankan suku bunganya. Sementara itu, pasar juga mencermati keputusan Bank of Japan yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam sekitar 31 tahun.

Dengan sejumlah bank sentral masih berada dalam fase penyesuaian kebijakan moneter, harga emas dunia diperkirakan tetap menghadapi volatilitas tinggi karena investor terus menimbang prospek suku bunga, inflasi, nilai Dolar AS dan kondisi ekonomi global. (*/rnc)