Menurutnya, rumah ibadah Islam, Katolik dan Hindu telah menjadi bagian dari kawasan Kampung Toleransi. Karena itu, kehadiran sarana ibadah Protestan diharapkan semakin memperkuat identitas kawasan sebagai ruang yang mencerminkan keberagaman.

“Pembangunan sarana ibadah Protestan sedang diupayakan untuk melengkapi rumah ibadah umat lain demi mewujudkan kawasan yang mencerminkan semangat Kampung Toleransi,” ungkap Pdt. Elmodan.

Ia juga meminta dukungan dari Majelis Sinode GMIT, klasis-klasis se-Kabupaten Kupang serta berbagai mitra eksternal agar rencana pembangunan tersebut dapat direalisasikan.

Iklan

Diharapkan jadi Destinasi Wisata Rohani Inklusif

Ketua Majelis Jemaat Ekklesia Airkom, Pdt. Elisabeth Ratu, menegaskan bahwa keberadaan rumah ibadah Protestan di kawasan tersebut akan semakin mengokohkan Kampung Toleransi sebagai destinasi wisata rohani yang inklusif.

Menurutnya, konsep Kampung Toleransi bukan hanya menghadirkan bangunan rumah ibadah dari berbagai agama, tetapi juga menciptakan ruang bagi masyarakat dengan latar belakang kepercayaan berbeda untuk saling berinteraksi dan membangun persaudaraan.

Kawasan Kampung Toleransi di Kecamatan Kupang Timur sendiri digagas oleh Anselmus Giaprillianto Djogo, atau yang akrab disapa Jefry Djogo, seorang tokoh nasionalis setempat.