Seba, RakyatNTT.ID – Wakil Bupati Sabu Raijua Ir. Thobias Uly, M.Si menegaskan bahwa percepatan pencegahan dan penurunan stunting harus dilakukan secara menyeluruh, terpadu, dan dimulai sejak sebelum seorang anak dilahirkan.

Hal tersebut disampaikan Thobias saat membuka Pra-Musrenbang Tematik Penanggulangan Stunting Tingkat Kecamatan Hawu Mehara Tahun 2026 di Gedung Gereja Viadolorosa Danirai, Desa Tanajawa, Kecamatan Hawu Mehara, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Asisten II Sekda Sabu Raijua, Plt. Kepala Bappeda, Camat Hawu Mehara, pimpinan OPD terkait, Kepala Puskesmas Daieko, Kapolsek Hawu Mehara, tokoh agama, Bhabinkamtibmas, para kepala desa, pendamping desa, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.

Iklan

Menurut Wabup Thobias, forum Pra-Musrenbang Tematik Stunting tidak boleh sekadar menjadi agenda rutin pemerintah dalam menyusun program dan anggaran.

Forum tersebut harus menjadi ruang untuk mengidentifikasi persoalan secara nyata hingga tingkat desa dan keluarga, sekaligus menentukan solusi yang mampu berdampak langsung terhadap masa depan generasi Sabu Raijua.

“Hari ini kita tidak hanya berbicara tentang sebuah program pemerintah. Kita sedang berbicara tentang masa depan manusia,” tegas Thobias.

Angka Stunting Sabu Raijua Naik jadi 25,63 Persen

Thobias mengingatkan bahwa di balik data dan angka stunting terdapat anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang serta keluarga yang membutuhkan perhatian, pelayanan, dan pendampingan.

Karena itu, setiap data yang dihasilkan harus menjadi dasar untuk menentukan intervensi yang tepat sasaran.

Ia juga menegaskan bahwa stunting bukan persoalan yang muncul secara tiba-tiba. Pencegahannya harus dilakukan melalui intervensi sejak masa sebelum kehamilan hingga anak tumbuh dan berkembang.

“Remaja putri harus mendapatkan pengetahuan dan perhatian yang cukup sebelum memasuki kehidupan berkeluarga. Ibu hamil harus mendapatkan pelayanan dan asupan gizi yang memadai. Ibu nifas dan ibu menyusui harus mendapatkan pendampingan. Bayi dan balita harus dipantau pertumbuhan dan perkembangannya secara rutin,” jelasnya.

“Dengan kata lain, penanggulangan stunting harus dimulai sebelum stunting itu terjadi,” lanjut Thobias.

Perhatian terhadap persoalan ini semakin penting setelah angka stunting di Kabupaten Sabu Raijua mengalami peningkatan.

Pada 2025, Sabu Raijua berhasil meraih peringkat pertama penanggulangan stunting tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur, dengan prevalensi stunting sebesar 21,95 persen.

Namun, berdasarkan hasil survei e-PPGBM pada Juli 2026, angka tersebut meningkat menjadi 25,63 persen.

Meski masih berada di bawah target prevalensi stunting daerah tahun 2026 sebesar 31,6 persen, kenaikan tersebut dinilai perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak.

“Kenaikan dari 21,95 persen menjadi 25,63 persen memberikan pesan yang jelas kepada kita bahwa upaya yang sudah kita lakukan harus terus diperkuat, dievaluasi dan diarahkan kepada sasaran yang paling membutuhkan,” katanya.

Enam Kelompok Sasaran jadi Prioritas

Wabup Thobias menjelaskan, percepatan pencegahan dan penurunan stunting periode 2025–2029 difokuskan pada enam kelompok sasaran prioritas.

Keenam kelompok tersebut yakni ibu hamil, ibu menyusui dan ibu nifas; anak usia 0–23 bulan; anak usia 24–59 bulan; remaja putri; calon pengantin; serta rumah tangga dan masyarakat.

Menurutnya, keenam kelompok tersebut harus menjadi perhatian utama dalam penyusunan program pembangunan.

Apabila ditemukan desa dengan jumlah ibu hamil berisiko tinggi, misalnya, maka pendampingan kehamilan dan pemenuhan kebutuhan gizi harus diperkuat.

Begitu pula jika ditemukan persoalan sanitasi dan keterbatasan air bersih. Penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan sektor lain.

Sementara keluarga yang menghadapi persoalan keterbatasan pangan dan ekonomi membutuhkan intervensi terpadu antara kesehatan, ketahanan pangan, pemberdayaan masyarakat, dan perlindungan sosial.

“Artinya, kita bisa jika kita bekerja bersama dan terus berkolaborasi,” ujar Thobias.

Wabup Minta OPD hingga Desa Tidak Bekerja Sendiri

Thobias mengajak seluruh perangkat daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, puskesmas, kader, lembaga pendidikan, tokoh agama, tokoh adat, organisasi masyarakat, hingga keluarga memperkuat koordinasi.

Menurutnya, penanganan stunting tidak akan maksimal apabila masing-masing pihak bekerja sendiri-sendiri tanpa tujuan yang sama.

“Kita harus memiliki pemahaman bahwa kita sedang menghadapi satu persoalan yang sama dan satu tujuan yang sama,” katanya.

Karena itu, perencanaan pembangunan harus benar-benar berangkat dari persoalan yang ditemukan di lapangan.

“Perencanaan harus berangkat dari masalah dan berakhir pada solusi,” tegasnya.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuat program penanggulangan stunting lebih tepat sasaran dan tidak sekadar mengulang kegiatan yang telah dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya.

Program Penurunan Stunting Diminta Tak Sekadar Seremonial

Menutup sambutannya, Wabup Thobias meminta seluruh pemangku kepentingan mempercepat pelaksanaan program penurunan stunting sesuai target yang telah ditetapkan.

Koordinasi dan kolaborasi antarlembaga harus diperkuat agar setiap program dapat dilaksanakan secara konsisten.

Selain intervensi langsung, edukasi, penyuluhan, konseling, dan pendampingan kepada masyarakat juga perlu terus ditingkatkan.

Materi edukasi terutama berkaitan dengan gizi seimbang, pola asuh, sanitasi lingkungan, serta pelayanan kesehatan ibu dan anak.

“Pencegahan stunting harus dimulai sejak dini,” tegasnya.

Thobias berharap Pra-Musrenbang Tematik Stunting Kecamatan Hawu Mehara tidak berhenti pada pembahasan maupun penyusunan daftar program.

Forum tersebut harus menghasilkan langkah konkret yang realistis, dapat dilaksanakan, dan benar-benar menjawab persoalan masyarakat.

Dengan meningkatnya angka stunting menjadi 25,63 persen, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua dituntut memperkuat kembali strategi intervensi agar capaian penurunan stunting tidak hanya tercatat dalam dokumen perencanaan, tetapi dirasakan langsung oleh keluarga dan anak-anak di seluruh wilayah. (*/rnc)