Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
“Stunting bukan hanya persoalan tinggi badan atau kondisi gizi seorang anak, tetapi berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusia dan masa depan daerah kita,” tegas Thobias.
Ia menjelaskan, anak yang mengalami stunting berisiko menghadapi hambatan pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, kemampuan belajar hingga produktivitas ketika dewasa.
Karena itu, upaya pencegahan dan penurunan stunting harus dipandang sebagai investasi jangka panjang dalam pembangunan manusia.
Pemerintah daerah, lanjutnya, terus mendorong berbagai langkah percepatan melalui penguatan kebijakan, peningkatan kualitas pelayanan dasar, pemenuhan kebutuhan gizi, perbaikan sanitasi dan lingkungan, serta penguatan koordinasi lintas sektor.
Stunting Tak Bisa Ditangani Sektor Kesehatan Saja
Thobias menekankan bahwa penanganan stunting tidak dapat dibebankan hanya kepada sektor kesehatan.
Masalah tersebut berkaitan erat dengan pendidikan, ketahanan pangan, ketersediaan air minum dan sanitasi, perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat, pola asuh, hingga kondisi ekonomi keluarga.
“Penanganan stunting membutuhkan kerja bersama. Tidak boleh ada ego sektoral. Semua perangkat daerah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, tokoh agama, tokoh adat, dunia usaha, serta masyarakat harus mengambil bagian sesuai dengan peran dan tanggung jawab masing-masing,” katanya.





WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan