Mbay, RakyatNTT.ID – Upaya pemulihan jaringan listrik terus dilakukan PLN pascagempa Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026.

PLN Kantor Layanan Mbay, Kabupaten Nagekeo, mengerahkan ratusan personel gabungan, termasuk dari Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Bajawa, Kabupaten Ngada, untuk memulihkan jaringan listrik di tujuh kecamatan yang terdampak gempa.

Salah satu wilayah yang menjadi fokus pemulihan adalah Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Iklan

Para petugas diterjunkan ke berbagai titik untuk melakukan pemeriksaan, pengamanan, perbaikan, hingga penormalan jaringan listrik secara bertahap.

Kerusakan yang ditemukan cukup beragam, mulai dari tiang listrik roboh, kabel putus, hingga kerusakan pada peralatan distribusi, pembangkit, dan gardu induk.

Listrik Berangsur Pulih, Warga Kembali Nikmati Cahaya

Seiring proses perbaikan, sistem kelistrikan di sejumlah titik mulai berangsur pulih. Namun, belum seluruh rumah warga dapat kembali dialiri listrik karena sebagian bangunan mengalami kerusakan berat bahkan roboh akibat gempa.

Kondisi tersebut membuat warga harus bertahan di tengah trauma dan ketakutan akibat gempa susulan yang masih dirasakan.

Meski demikian, petugas PLN terus bekerja tanpa mengenal lelah untuk menyelesaikan titik-titik terakhir, terutama di wilayah terpencil. Keamanan jaringan menjadi perhatian utama sebelum listrik kembali disalurkan ke rumah warga.

Bagi masyarakat yang telah menunggu selama sepekan dalam kondisi gelap, kembalinya aliran listrik menjadi kabar yang sangat berarti.

Salah satu warga Desa Tonggurambang, Siti Hamida Tonga, mengaku bersyukur akhirnya dapat kembali menikmati cahaya lampu pada malam hari.

“Terima kasih PLN, akhirnya kami bisa menikmati cahaya lampu. Sudah satu minggu kami mengalami gelap gulita dan takut yang masih terus menghantui kami hingga saat ini. Akhirnya kami warga di sini lega dan listrik menjadi satu-satunya harapan warga di sini.”

Siti berharap proses pemulihan tidak berhenti di wilayah yang dekat dengan pusat kota, tetapi terus menjangkau masyarakat di daerah terpencil dan lokasi pengungsian.

“Kalau kami di dekat kota mungkin tidak terlalu, Pak. Kasihan masih ada warga lain di tempat-tempat pengungsian, ada yang masih gelap dengan penerangan seadanya.”

Ratusan Personel Dikerahkan ke Titik Terdampak

Manajer Unit Layanan Pelanggan (ULP) Mbay, Dwi Prasetya Utomo, mengatakan pemulihan jaringan dilakukan secara menyeluruh di berbagai lokasi terdampak.

Menurutnya, ratusan personel telah dikerahkan untuk mempercepat proses pemulihan listrik di wilayah Nagekeo.

“Ratusan personel sudah kami kerahkan ke semua titik di wilayah Nagekeo, terutama di titik terdampak saat ini,” ungkap Dwi.

Ia menjelaskan, untuk wilayah Aesesa, Mbay dan sekitarnya, kondisi jaringan listrik saat ini sudah hampir 100 persen pulih dan dapat kembali dimanfaatkan masyarakat.

Listrik yang kembali menyala memungkinkan warga melakukan berbagai aktivitas dasar, seperti memasak, mengisi daya telepon seluler, hingga menggunakan peralatan elektronik.

Namun, pemulihan sambungan ke rumah-rumah warga yang roboh atau mengalami kerusakan masih membutuhkan proses lebih lanjut.

“Jaringan listrik di jalanan memang sudah berangsur pulih. Namun, untuk rumah yang roboh atau rusak masih dalam proses pemulihan mengingat banyak rumah warga yang roboh akibat guncangan dahsyat gempa di wilayah Nagekeo,” jelasnya.

PLN Siapkan Genset dan Lampu Darurat

Untuk membantu warga yang rumahnya belum dapat dialiri listrik, PLN ULP Mbay menyiapkan sejumlah alternatif penerangan.

Bantuan tersebut antara lain genset di posko, lampu darurat bagi keluarga, lampu tenaga surya untuk wilayah terpencil, serta penerangan langsung di tenda-tenda pengungsian.

“Sambil menunggu rumah siap disambung, warga tidak dibiarkan gelap. PLN menyiapkan genset di posko, lampu darurat untuk keluarga, lampu surya untuk daerah terpencil, serta penerangan langsung di tenda pengungsian,” kata Dwi.

Selain dukungan kelistrikan, PLN juga memberikan bantuan sembako kepada masyarakat terdampak sebagai bentuk kepedulian terhadap warga yang masih berada dalam masa tanggap darurat.

“Mungkin bantuan kami tidak seberapa, tapi setidaknya bantuan yang kami bisa dinikmati dan dirasakan warga,” tambahnya.

Listrik Jadi Harapan di Tengah Trauma Gempa

Warga Desa Tonggurambang lainnya, Isna, menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas PLN yang bekerja siang dan malam untuk memulihkan jaringan listrik setelah gempa.

Menurutnya, penerangan memiliki arti penting bagi warga yang masih diliputi rasa takut dan cemas akibat bencana.

Setelah sekitar satu minggu mengalami pemadaman, warga akhirnya dapat kembali menikmati cahaya listrik pada malam hari.

“Alhamdulillah Pak, saya pribadi puas. Terima kasih PLN. Akhirnya kami tidak gelap lagi. Saya, anak dan suami senang sekali. Jujur kalau malam gelap kami takut sekali, dan rasa takut, cemas pokoknya campur aduk. Sekali lagi terima kasih Unit Layanan PLN Mbay.”

Pemulihan listrik di Nagekeo tidak hanya menjadi bagian dari perbaikan infrastruktur pascagempa. Bagi warga yang masih berada dalam bayang-bayang trauma, kembalinya penerangan menjadi simbol bahwa kehidupan perlahan mulai kembali berjalan.

PLN memastikan proses pemulihan terus dilanjutkan hingga titik-titik terdampak, termasuk wilayah terpencil dan lokasi pengungsian, sehingga masyarakat dapat kembali memperoleh akses listrik secara aman dan bertahap. (rnc15)