Jakarta, RakyatNTT.ID – Organisasi relawan Masyarakat Bersatu Gotong-Royong (MBG) menggelar Silaturahmi Nasional, Sabtu (8/8/2026) sebagai momentum memperkuat persaudaraan, solidaritas, serta komitmen bersama dalam mengawal program strategis nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.

Ketua Dewan Pembina MBG, Dr. M. Qodari, S.Psi., M.A., mengatakan semangat persatuan dan gotong royong harus menjadi fondasi utama dalam mengawal pelaksanaan program MBG.

Menurutnya, program MBG bukan sekadar program pemenuhan kebutuhan masyarakat, tetapi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia Indonesia menuju 2045.

Iklan

“Silaturahmi Nasional hari ini bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi momentum bersama untuk memperkuat persaudaraan dan perjuangan. Program MBG adalah jembatan menuju Indonesia Emas 2045, dan relawan memiliki peran yang sangat strategis,” ujar Qodari.

Apresiasi Relawan MBG hingga Tingkat Daerah

Dalam kesempatan tersebut, Qodari menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus dan relawan yang telah membangun organisasi hingga tingkat kabupaten dan kota.

Menurutnya, keberadaan jaringan relawan di berbagai daerah menjadi kekuatan penting dalam memastikan aspirasi dan kondisi lapangan dapat tersampaikan dalam proses pengawalan program MBG.

Konsolidasi tersebut juga diharapkan memperkuat koordinasi antara relawan, mitra, dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam pelaksanaan program.

Hingga saat ini, program MBG disebut telah menjangkau 63.520.178 penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Seiring dengan semakin luasnya cakupan program, Badan Gizi Nasional (BGN) terus melakukan pembenahan, termasuk perapihan data, refocusing, dan percepatan perbaikan tata kelola.

Qodari: Mitra adalah Sahabat BGN

Sebagai bagian dari upaya pengawalan program sejak awal, Dewan Pembina MBG telah melakukan koordinasi langsung dengan Kepala BGN Sudaryono.

Koordinasi tersebut dilakukan untuk menyampaikan sejumlah masukan strategis berdasarkan pengalaman dan temuan yang diperoleh dari lapangan.

Salah satu poin yang ditekankan adalah pentingnya membangun hubungan yang kuat antara BGN dan para mitra pelaksana program.

“Mitra adalah sahabat BGN, bukan musuh. Tanpa mitra, tidak ada kegiatan MBG karena para mitralah yang menyiapkan infrastruktur di lapangan,” tegas Qodari.

Menurutnya, keberhasilan program berskala nasional membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. Pemerintah, mitra pelaksana, relawan, dan masyarakat perlu ditempatkan sebagai bagian dari satu ekosistem untuk memastikan program berjalan efektif.

BGN Prioritaskan 1.700 SPMBG di Wilayah 3T

Dalam upaya memperluas pemerataan manfaat, BGN disebut memprioritaskan pembangunan 1.700 Satuan Pelayanan MBG (SPMBG) di wilayah 3T, yakni daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Prioritas juga diarahkan kepada daerah yang memiliki prevalensi stunting tinggi.

Langkah tersebut dinilai penting agar program MBG tidak hanya terkonsentrasi di wilayah dengan akses infrastruktur yang relatif mudah, tetapi juga menjangkau masyarakat yang berada di kawasan dengan tantangan geografis dan sosial lebih besar.

Selain pembangunan SPMBG, sebanyak 114 titik dapur SPMBG disebut siap beroperasi di wilayah Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), serta enam provinsi di Papua.

Perluasan layanan tersebut diharapkan dapat mempercepat pemerataan akses masyarakat terhadap manfaat program MBG.

Relawan Tegaskan Dukungan terhadap Program Konstitusional

Di tengah dinamika hukum yang berkembang terkait program MBG, organisasi relawan juga menegaskan penghormatan terhadap putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Putusan tersebut dinilai semakin mempertegas posisi program MBG sebagai bagian dari kebijakan yang memiliki landasan konstitusional dan ditujukan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, Silaturahmi Nasional MBG tidak hanya menjadi forum mempererat hubungan antarrelawan, tetapi juga momentum memperkuat komitmen untuk mengawal pelaksanaan program secara berkelanjutan.

Dengan jaringan relawan yang terus berkembang hingga tingkat daerah, MBG diharapkan dapat berkontribusi dalam memastikan program berjalan tepat sasaran sekaligus mendukung agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Semangat gotong royong, konsolidasi, dan kolaborasi menjadi modal penting untuk memastikan program strategis tersebut mampu memberikan manfaat yang lebih luas, terutama bagi masyarakat di wilayah 3T dan daerah yang masih menghadapi persoalan gizi serta stunting. (*/rnc)