Namun, cobaan kembali datang. Pada 2024, sang kakek meninggal dunia.

Sejak saat itu, Cinta hanya memiliki Nenek Katarina sebagai tempat bergantung sekaligus pelindung utama dalam kehidupannya.

Rumah Bocor, Kehidupan Serba Kekurangan

Nenek Katarina tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, ia bekerja serabutan di ladang.

Penghasilannya tidak menentu. Dari pendapatan tersebut, ia harus memenuhi kebutuhan makan, pakaian hingga keperluan sekolah Cinta.

Dalam kondisi tertentu, keduanya bahkan harus menunggu bantuan dari keluarga, kerabat maupun warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Sebagai kepala keluarga, saya harus menanggung segalanya. Makan, kebutuhan sekolah Cinta, buku, dan seragam. Namun apa daya, penghasilan serabutan tak cukup untuk kami berdua,” ujar Katarina dengan mata berkaca-kaca.

Menurut Katarina, mereka telah terdaftar sebagai penerima Program Keluarga Harapan (PKH), sementara Cinta mendapatkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).

Namun, bantuan tersebut belum sepenuhnya mampu menutup kebutuhan hidup dan pendidikan Cinta.

“Kami terdaftar dalam PKH dan Cinta menerima bantuan PIP. Namun jumlah itu belum cukup untuk kebutuhan hidup dan biaya sekolahnya. Rumah kami pun bocor di mana-mana. Saat hujan, kami kedinginan dan basah,” katanya.