Menurutnya, pengembangan ekonomi masyarakat perlu diarahkan pada komoditas unggulan yang memiliki karakteristik spesifik di masing-masing wilayah.

Ia mencontohkan Sabu dengan potensi kelapa dan gula kelapa, Timor dan Alor dengan komoditas hortikultura seperti asam, kopi dan rambutan, serta kawasan Mollo yang memiliki potensi peternakan sapi.

Pendekatan berbasis potensi lokal tersebut dinilai penting agar program pemberdayaan masyarakat tidak sekadar berjalan sebagai kegiatan jangka pendek, tetapi mampu menciptakan sumber penghidupan yang berkelanjutan.

Iklan

GAMKI NTT: Bibit Produktif jadi Investasi Masa Depan

Ketua DPD GAMKI NTT Winston Rondo mengatakan pembangunan rumah pembibitan mandiri merupakan bagian dari gerakan penyediaan bibit produktif dari tingkat hulu.

Melalui program tersebut, GMIT dan GAMKI NTT menargetkan penyediaan puluhan ribu bibit pohon produktif yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan.

“Penanaman pohon produktif, seperti pohon asam Timor, dipandang bukan lagi sekadar kegiatan seremonial, melainkan investasi kehidupan jangka panjang untuk menghadapi ancaman krisis iklim, kekeringan, dan krisis air demi masa depan generasi mendatang,” tegas Winston.

Menurutnya, tanaman produktif memiliki manfaat ganda. Selain berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, keberadaan pohon juga dapat mendukung upaya menjaga lingkungan dan meningkatkan ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim.

Asam Dinilai Cocok untuk Kondisi Amanuban Selatan

Pemerintah Kabupaten TTS memberikan dukungan terhadap program pembibitan tersebut.