Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Tujuannya adalah pengenalan akan Allah, bukan pelampiasan amarah. Sepanjang narasi, satu refrein berulang seperti nada dasar: “supaya engkau mengetahui, bahwa Akulah TUHAN” (Keluaran 7:5, 7:17; 8:22; 9:14). Tulah bukan letupan kemarahan yang buta; ia adalah penyingkapan diri Allah, sebuah pedagogi ilahi yang menyatakan siapa Dia di hadapan sistem yang menindas.

Tujuannya adalah kebebasan untuk beribadah, bukan kehancuran. Perintah Allah kepada Firaun bukan “musnahlah”, melainkan “biarkanlah umat-Ku pergi, supaya mereka beribadah kepada-Ku” (Keluaran 7:16; 8:1). Sasaran akhir seluruh drama itu adalah relasi yang dipulihkan, umat yang dibebaskan dari perbudakan menuju persekutuan dengan Allahnya.
Sasarannya adalah imperium yang menindas, dan Allah justru melindungi yang rentan. Ini titik yang kerap dilupakan pembaca vonis. Tulah menimpa sistem Firaun; kekuasaan yang memperbudak, memeras, dan membunuh bayi-bayi Ibrani.
Sementara itu, Allah berulang kali mengecualikan umat yang tertindas dari tulah: tanah Gosyen luput dari lalat pikat (Keluaran 8:22-23), ternak Israel selamat dari sampar (9:4-7), tak ada hujan es di Gosyen (9:26), dan ketika kegelapan menyelimuti Mesir, “di tempat kediaman orang Israel ada terang” (10:23).



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan