Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ketiga, ia tidak dapat diuji dan karena itu bukan kebenaran, melainkan alat. Teologi vonis selalu diterapkan secara pilih-pilih: kepada orang lain, kepada yang miskin, kepada daerah yang jauh hampir tidak pernah kepada diri sang penuduh. Klaim yang tak pernah bisa dibuktikan salah bukanlah penjelasan; ia hanya cara halus untuk merasa lebih suci sambil menghakimi yang sedang menangis.

Keempat, dan paling menentukan: ia dipatahkan oleh salib. Jika derita berbanding lurus dengan dosa, maka penderita terbesar semestinya pendosa terbesar. Namun di pusat iman kita berdiri Sang tak berdosa yang justru paling menderita.
Yesus sendiri secara langsung menolak logika ini. Ketika ditanya tentang orang-orang Galilea yang dibantai dan delapan belas orang yang tertimpa menara Siloam, Ia menjawab tegas: “Sangkamu mereka lebih besar dosanya…? Tidak!” (Lukas 13:1-5). Dan atas orang yang lahir buta: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya… tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan” (Yohanes 9:1-3). Yesus memindahkan pertanyaan dari “siapa yang salah?” ke “karya pemulihan apa yang harus lahir dari sini?” Itulah pergeseran yang harus kita lakukan atas Flores.
Membaca ulang tulah: dari penghancuran menuju pembebasan
Kembali ke tulah Mesir. Bila dibaca dengan teliti, sepuluh tulah itu punya satu arah yang konsisten, dan arah itu bukan penghukuman melainkan pemulihan tatanan hidup.



WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan