Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Iuran Pengembangan Pendidikan (IPP) atau SPP dari orang tua siswa tidak mencapai target karena masih banyak wali murid yang belum mampu membayar, bahkan hingga anak mereka telah lulus dari sekolah.
“Yang jadi persoalan itu adalah gaji dari Komite. Tahun 2025 memang kita agak keteter karena tidak ada yang bayar, dan jumlah honorer banyak, itu yang jadi soal,” katanya.
Selain itu, sekolah juga menerapkan kebijakan pembebasan IPP pada beberapa program keahlian, khususnya jurusan berbasis pertanian. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai strategi menarik minat peserta didik baru sejak tahun 2025.
“Itu yang jadi soal sehingga kita upayakan di bulan Agustus ini kita selesaikan semua,” pungkas Jevri.
Kasus ini kembali menjadi perhatian terhadap sistem pembiayaan tenaga honorer yang bergantung pada pendapatan komite sekolah. DPRD Sabu Raijua berharap seluruh pihak menjalankan hasil kesepakatan sehingga hak para guru dapat segera dipenuhi dan proses belajar mengajar tidak terganggu. (rnc04)




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan