Menurut Johni, kunjungan tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Pemerintah melihat adanya perubahan perilaku masyarakat yang semakin mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Ia menilai berbagai persoalan tersebut berakar pada kebiasaan atau budaya yang masih terbawa dari daerah asal. Karena itu, gereja diharapkan terus membina umat agar mampu meninggalkan kebiasaan yang menghambat kemajuan dan menggantinya dengan nilai-nilai kehidupan yang lebih produktif.

“Pelayanan gereja tidak hanya berbicara tentang kehidupan rohani, tetapi juga membentuk karakter dan perilaku masyarakat. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, masyarakat akan semakin mampu mengubah kebiasaan yang tidak produktif sehingga dapat hidup berdampingan dengan baik dan membawa nama baik NTT di mana pun berada,” tegasnya.

Gereja Didorong Berperan Atasi Stunting dan Kemiskinan

Selain persoalan karakter masyarakat, Johni Asadoma juga menyoroti masih tingginya angka stunting dan kemiskinan di Nusa Tenggara Timur.

Menurutnya, penyelesaian dua persoalan tersebut tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk gereja sebagai mitra pembangunan.

Ia juga mengingatkan pentingnya menyelesaikan konflik melalui musyawarah adat dan jalur hukum, bukan dengan kekerasan ataupun perang antarkelompok yang hanya menimbulkan korban serta perpecahan.