Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Tanah, air, hutan, laut, padang, dan sumber daya alam bukan hanya benda ekonomi, tetapi bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dijaga. Gereja perlu bersuara terhadap kerusakan lingkungan, krisis air, praktik pembangunan yang merusak, dan eksploitasi sumber daya yang mengabaikan masyarakat adat.
Gereja tidak boleh netral ketika ciptaan Tuhan dirusak dan masyarakat kecil menjadi korban.
Keenam, GKS perlu meneguhkan kembali nilai-nilai budaya Sumba dalam terang Injil. Budaya bukan musuh iman. Budaya adalah ruang tempat manusia menemukan identitas, martabat, dan akar kehidupan. Tentu tidak semua praktik budaya harus diterima tanpa kritik.
Tetapi gereja juga tidak boleh memandang budaya secara sempit. Ada nilai luhur dalam budaya Sumba: gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, relasi dengan tanah, solidaritas keluarga, penghargaan terhadap simbol, serta rasa hormat terhadap kehidupan. Nilai-nilai ini perlu dirawat, dikritisi, dan diterangi oleh Injil, bukan dihapus begitu saja.
Ketujuh, GKS perlu menjadi suara keadilan dan kebenaran. Gereja tidak boleh takut berbicara ketika umat menghadapi ketidakadilan. Gereja tidak boleh hanya menjadi penonton ketika tanah masyarakat kecil terancam, ketika pendidikan tidak merata, ketika kemiskinan diwariskan, ketika kekuasaan berjalan tanpa empati, dan ketika suara orang kecil tidak didengar.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan