Ketiga, GKS harus menjadikan pemuda bukan hanya sebagai pelengkap acara gereja. Pemuda bukan sekadar panitia, pengisi koor, penjaga parkir, atau tenaga teknis kegiatan. Pemuda adalah energi masa depan gereja. Mereka perlu diberi ruang untuk berpikir, berkarya, berpendapat, dan memimpin.

Gereja harus membuka ruang kaderisasi yang sehat, bukan hanya kaderisasi pelayanan mimbar, tetapi juga kaderisasi sosial, ekonomi, ekologis, budaya, dan kepemimpinan publik. Pemuda GKS harus dibentuk menjadi generasi yang beriman, kritis, berdaya, dan mencintai tanah Sumba.

Keempat, gereja perlu memuliakan kembali peran perempuan. Di banyak jemaat, perempuan adalah kekuatan utama dalam kehidupan keluarga dan gereja. Mereka hadir dalam doa, pelayanan, ekonomi rumah tangga, pendidikan anak, dan kehidupan sosial kampung.

Tetapi sering kali suara perempuan belum sungguh-sungguh menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Merawat kehidupan berarti memberi ruang yang adil bagi perempuan untuk terlibat, memimpin, dan menentukan arah pelayanan gereja.

Kelima, GKS harus berdiri di garis depan dalam merawat bumi Sumba. Subtema Sidang Sinode menyebut secara jelas tentang merawat bumi sebagai rumah bersama. Ini bukan sekadar bahasa ekologis. Ini adalah panggilan iman.