INI bukan tentang sepakbola. Bukan juga tentang korupsi para Jaksa, bukan juga tentang jurnalisme. Ini tentang menjadi tua.

Menjadi tua sering kali disalahartikan sebagai memudarnya kekuatan atau menurunnya vitalitas. Padahal, seiring bertambahnya usia, kedewasaan justru menawarkan bentuk kekuatan baru yang lebih elegan: seni bertindak tenang dan menggunakan tenaga hanya pada saat yang paling tepat.

Pemahaman ini mengingatkan saya pada sebuah pengalaman berharga di masa muda, saat saya masih aktif sebagai wartawan. Kala itu, saya dan beberapa rekan jurnalis tengah meliput di Kejaksaan Agung RI di kawasan Blok M, Jakarta. Suasana ruang wawancara riuh dan sesak.

Kami semua berebut melontarkan pertanyaan dengan suara lantang dan penuh antusiasme kepada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) yang cukup lama kami tunggu.

Di tengah hiruk-pikuk tersebut, saya memperhatikan sosok wartawan senior dari Radio Nederland, Aboeprijadi Santoso, yang baru kali itu juga saya temui secara langsung. Kami sudah berteman di medsos sebelumnya.

Sepanjang sesi, beliau hanya duduk diam dan mengamati. Namun, menjelang akhir sesi, ketika kegaduhan mulai mereda, beliau bangkit dan mengajukan satu pertanyaan tunggal.

Pertanyaan itu sangat tajam, terstruktur, dan tepat sasaran. Momen itu seketika menjadi “pencerahan” bagi saya.

Beliau membuktikan bahwa kehadiran dan pengaruh tidak selalu harus diukur dari seberapa keras kita berteriak atau seberapa banyak kita bicara. Hormat untuk bang Aboeprijadi dan mohon izin menyebut nama di sini.

Refleksi tentang kedewasaan ini terlihat jelas pada sosok megabintang sepak bola, Lionel Messi. Di usia yang tak lagi muda, Messi mengubah gaya bermainnya.

Ia kini jarang berlari tanpa arah atau membuang-buang energi untuk mengejar bola yang tidak perlu. Ia bermain dengan sangat efisien, menghemat langkah, namun secara mengejutkan selalu muncul di ruang dan waktu yang tepat untuk memberikan eksekusi mematikan.

Messi telah mencapai titik di mana kecerdasan membaca permainan mengalahkan sekadar kekuatan fisik belaka. Ketenangannya di lapangan hijau adalah wujud tertinggi dari pengalaman hidup yang ia miliki.

Kedua kisah nyata di atas seolah merangkum lirik lagu tema Piala Dunia Afrika Selatan dari K’naan yang sering terngiang di kepala:

“When I get older,
I will be stronger,
they call me freedom,
just like the waving flag.”

Lirik ini sangat filosofis dan seakan ditulis untuk Messi. Tapi mohon jangan lagi dituduh Messi bersekongkol dengan sang penulis lagu.

Bertambahnya usia dan pendewasaan diri bukanlah proses pelemahan, melainkan perjalanan menemukan kekuatan sejati yang membebaskan.

Seperti bendera yang berkibar dengan anggun dihembus angin—ia tidak melawan arah dengan kekerasan, melainkan menari mengikuti ritme namun tetap tegak berdiri.

Termasuk di dalam menjadi tua adalah kemauan menerima kekalahan jika seandainya itu harus terjadi. Tanpa mencari pembenaran atau alasan.

Pada akhirnya, menari bersama waktu adalah proses memeluk kedewasaan. Menjadi tua mengajarkan kita untuk lebih sabar, lebih tenang, dan hanya melangkah ketika momen itu benar-benar sempurna. (*)