Publik curiga. Jangan-jangan yang sedang dibangun itu bukan masa depan Semau. Jangan-jangan itu monumen ego politik yang ingin dikenang sebelum lampu kekuasaan Bupati Kabupaten Kupang meredup.

Melibatkan akademisi untuk melegitimasi proyek ini, juga adalah lagu lama yang membosankan. Universitas Nusa Cendana (UNDANA) termasuk di dalamnya. Mereka dilibatkan dalam studi kelayakan dan perencanaan teknis. Baiklah. Kajian akademik memang penting. Tapi Anda tahu, di negeri ini, kajian seringkali bukan alat untuk menguji proyek. Ia bisa berubah menjadi parfum ilmiah untuk membuat proyek yang ganjil tercium rasional.

Ada map tebal. Ada istilah teknis. Ada presentasi. Ada tabel. Ada rekomendasi. Lalu proyek berjalan.

Begitulah cara kekuasaan bekerja. Ia memakai jubah kesucian di satu tangan dan map akademik di tangan lain. Rakyat diminta percaya. Jangan banyak tanya. Kalau bertanya, nanti dianggap tidak paham pembangunan. Kalau terlalu keras bertanya, nanti bisa dituduh anti agama.

Padahal ini bukan soal agama. Ini soal APBD.

Mari kita benturkan semua retorika itu dengan kenyataan. Kabupaten Kupang masih hidup dengan angka kemiskinan 20,32 persen. Ada sekitar 87,50 ribu jiwa miskin. Ini bukan angka statistik yang dingin. Ini manusia. Ini rumah. Ini dapur. Ini anak sekolah. Ini mama-mama yang memikul air. Ini petani rumput laut di Akle dan Uitiuhana yang nasibnya dicekik cuaca ekstrem, harga yang naik turun, dan negara yang datang terlambat.