Tambolaka, RakyatNTT.ID — Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) terus memperkuat upaya percepatan penanganan stunting melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satu langkah yang dilakukan yakni menggelar Pertemuan Koordinasi Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) tingkat Kabupaten SBD.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten SBD, Christofel Horo, SH, mewakili Bupati SBD, di Aula Bupati SBD, Rabu (17/6/2026).

Pertemuan itu dihadiri perwakilan BKKBN beserta jajaran, Forkopimda, kepala OPD, para camat, Kepala BAZNAS, Kepala SPPG, kalangan pengusaha, pimpinan yayasan, koordinator penyuluh, serta tamu undangan lainnya.

Iklan

Dalam sambutan Bupati Ratu Ngadu Bonnu Wulla yang dibacakan Christofel Horo, disampaikan bahwa stunting masih menjadi tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia karena berdampak tidak hanya pada pertumbuhan fisik anak, tetapi juga perkembangan kognitif, kemampuan belajar, hingga produktivitas pada masa depan.

“Stunting bukan hanya persoalan tinggi badan anak, tetapi menyangkut kualitas generasi di masa depan. Karena itu, penanganannya membutuhkan perhatian dan kerja bersama dari seluruh pihak,” kata Christofel.

Ia mengungkapkan, berdasarkan data per April 2026, angka stunting di Kabupaten Sumba Barat Daya mencapai 39,7 persen atau sebanyak 5.278 anak. Angka tersebut masih berada jauh di atas prevalensi nasional yang tercatat sebesar 19,8 persen.

Menurut dia, kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena menunjukkan masih banyak anak yang membutuhkan pendampingan dan intervensi agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Christofel menjelaskan, pelaksanaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) bertujuan mewujudkan generasi sehat, cerdas, dan bebas stunting melalui peningkatan pemenuhan nutrisi bagi keluarga berisiko stunting, terutama selama periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK).

Melalui forum koordinasi ini, pemerintah juga mengajak berbagai pihak untuk ikut terlibat, mulai dari BUMN, BUMD, sektor perbankan, dunia usaha, hingga lembaga sosial.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam mempercepat penurunan angka stunting di daerah.

“Harapannya, melalui keterlibatan semua pihak, kita dapat menciptakan generasi yang sehat, cerdas, bebas stunting, dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih baik,” ujarnya.

Di akhir sambutan, Christofel mengajak seluruh peserta untuk mengambil peran sebagai orang tua asuh bagi keluarga yang berisiko stunting serta memperkuat koordinasi, komitmen bersama, dan tindakan nyata dalam mendukung keluarga yang membutuhkan pendampingan.

Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan anak-anak di Kabupaten SBD dapat tumbuh sehat dan memperoleh masa depan yang lebih baik. (rnc29)