Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Pembahasan mengenai rabies menjadi salah satu topik yang paling mendapat perhatian dalam konferensi tersebut. Para ahli membedah berbagai aspek mulai dari pola mutasi virus rabies, pengelolaan populasi hewan penular rabies (HPR), hingga pentingnya integrasi data antara dinas peternakan dan dinas kesehatan dalam memutus rantai penularan penyakit kepada manusia.
Konferensi hari kedua ini merupakan lanjutan dari rangkaian pembukaan AJIVE ke-10 yang sebelumnya diawali dengan seremoni pembukaan dan gala dinner pada Jumat (5/6/2026) di Auditorium Universitas Nusa Cendana.
Perkuat Biosekuriti dan Cegah Penyakit Zoonosis
Pelaksanaan AJIVE ke-10 di Kupang dinilai memiliki urgensi besar dalam menghasilkan rekomendasi berbasis sains untuk menghadapi ancaman penyakit zoonosis, terutama rabies yang hingga kini masih menjadi tantangan serius di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur.
Kolaborasi antara akademisi Indonesia dan Jepang diharapkan mampu meningkatkan standar biosekuriti, memperkuat tata kelola kesehatan ternak, serta mendorong peningkatan kualitas komoditas peternakan lokal agar mampu bersaing di pasar internasional.
Selain melindungi sektor peternakan sebagai salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat, hasil-hasil riset dan rekomendasi yang lahir dari simposium ini juga diharapkan dapat meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat dari ancaman penyakit menular yang berasal dari hewan.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan