Gerardus juga menekankan pentingnya kolaborasi antardaerah di Pulau Sumba. Menurut dia, tantangan pembangunan tidak dapat diselesaikan secara parsial oleh masing-masing kabupaten.

“Kita boleh berasal dari SBD, tetapi kita adalah orang Sumba,” katanya.

Ia berharap semakin banyak generasi muda Sumba yang mampu berkiprah sebagai akademisi, birokrat, profesional, pengusaha, maupun pemimpin publik yang dapat membawa dampak positif bagi daerah.

Iklan

Dalam kesempatan itu, Gerardus turut mengajak masyarakat memaknai kembali gelar-gelar adat seperti Umbu dan Rato sebagai simbol pengabdian, bukan sekadar status keturunan.

Menurut dia, penghormatan terhadap seseorang seharusnya lahir dari kesediaannya melayani dan memberi manfaat bagi masyarakat.

“Darah adalah tanggung jawab. Darah adalah panggilan untuk melayani,” ujar Gerardus.

Melalui kepengurusan baru Ikalsabda Jabodetabek, ia berharap diaspora SBD dapat menjadi mitra pembangunan yang mampu menjembatani gagasan, sumber daya, dan kolaborasi untuk mendukung kemajuan daerah asal. (rnc29)