Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Ende, RakyatNTT.ID – Suasana kebersamaan dan gotong royong begitu terasa di Kampung Adat Wolojita, Kecamatan Wolojita, Kabupaten Ende, Sabtu (6/6/2026).
Puluhan warga bersama para tokoh adat bahu-membahu melakukan pemasangan atap Rumah Adat Lio “Sa’o Ria Ame Raja” yang telah mengalami kerusakan akibat usia.
Kegiatan tersebut mendapat perhatian langsung dari Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Ende, Ny. Cici Badeoda, yang hadir bersama jajaran Penggerak PKK, sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta tokoh adat setempat.
Kedatangan rombongan disambut secara adat oleh para mosalaki dan tokoh masyarakat melalui prosesi pengenaan pakaian adat Lio, Lawo Lambu, sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap tamu yang hadir.
Simbol Identitas dan Warisan Leluhur
Dalam kesempatan tersebut, Cici Badeoda mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat yang selama kurang lebih tiga bulan terakhir terlibat dalam proses pembangunan dan perbaikan rumah adat tersebut.
“Rumah adat ini bukan hanya sekadar bangunan, tetapi merupakan simbol jati diri masyarakat Lio. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian budaya dan warisan leluhur,” ujarnya.
Rumah Adat Sa’o Ria Ame Raja merupakan salah satu rumah adat penting bagi masyarakat Lio di Kabupaten Ende. Selain menjadi tempat tinggal tokoh adat, rumah tersebut juga berfungsi sebagai pusat kegiatan adat, musyawarah masyarakat, hingga tempat penyimpanan benda-benda pusaka.
Atap Setinggi 8 Meter Dipasang dengan Cara Tradisional
Proses penggantian atap dilakukan menggunakan alang-alang yang diperoleh dari kawasan hutan di sekitar desa. Atap rumah adat yang memiliki tinggi sekitar 8 meter itu dipasang secara bertahap oleh para tukang adat atau Ata Rawi dengan bantuan warga.
Untuk menutupi seluruh bagian atap, dibutuhkan sekitar 650 ikat alang-alang yang disusun secara tradisional sesuai teknik warisan leluhur.
Penggantian atap ini tidak hanya bertujuan memperbaiki bangunan yang mulai lapuk, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keaslian arsitektur rumah adat Lio yang telah diwariskan turun-temurun.
Menghimpun Keturunan Ame Raja dari Berbagai Daerah
Salah satu tokoh keturunan Ame Raja, Sedu Valentinus, menjelaskan bahwa Sa’o Ria Ame Raja memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Wolojita.
Menurutnya, Ame Raja merupakan leluhur yang memiliki delapan orang anak yang kemudian menjadi cikal bakal berbagai garis keturunan yang kini tersebar di berbagai wilayah.
“Acara ini menjadi momentum penting untuk menghimpun seluruh keturunan yang telah berkembang selama ratusan tahun. Kehadiran mereka hari ini merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur,” ungkap Sedu Valentinus.
Ia menambahkan bahwa nilai historis rumah adat tersebut tidak hanya terletak pada bangunannya, tetapi juga pada semangat persatuan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Biaya Renovasi Capai Rp700 Juta
Revitalisasi Rumah Adat Ame Raja didanai secara swadaya melalui iuran keluarga besar keturunan Ame Raja serta dukungan dari para simpatisan.
Total biaya yang dibutuhkan untuk proses renovasi diperkirakan mencapai Rp700 juta.
Menurut Sedu Valentinus, rumah adat yang dibangun menggunakan material kayu dan alang-alang memiliki masa pakai tertentu sehingga membutuhkan perawatan berkala setiap 8 hingga 10 tahun.
Karena itu, generasi muda dan seluruh keturunan diharapkan terus menjaga serta melestarikan warisan budaya tersebut agar tetap bertahan di masa mendatang.
“Kami berharap seluruh keturunan, baik yang tinggal di Ende maupun di luar daerah, tetap bersatu, menjaga kebersamaan, serta meneruskan nilai-nilai budaya leluhur kepada generasi berikutnya,” katanya.
Komitmen Melestarikan Budaya Lio
Kegiatan gotong royong di Kampung Adat Wolojita menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dan para keturunan pemilik rumah adat.
Melalui semangat kebersamaan yang terus dijaga, Rumah Adat Sa’o Ria Ame Raja diharapkan tetap berdiri kokoh sebagai simbol identitas masyarakat Lio sekaligus warisan budaya berharga bagi Kabupaten Ende dan Nusa Tenggara Timur. (rnc16)






WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe


Tinggalkan Balasan