Untuk jalur Akpol, penilaian dilakukan melalui akumulasi nilai psikologi, akademik, dan kesamaptaan jasmani. Sedangkan untuk peserta Bintara dan Tamtama, kelulusan ditentukan berdasarkan hasil ujian psikologi dan akademik.

Polda NTT juga menerapkan sistem Computer Assisted Test (CAT) sebagai bagian dari upaya menjaga transparansi dan akuntabilitas dalam proses seleksi.

Melalui sistem tersebut, peserta dapat langsung mengetahui nilai yang diperoleh setelah menyelesaikan ujian sehingga seluruh proses dapat dipertanggungjawabkan secara objektif.

Iklan

“Dengan sistem CAT, peserta dapat langsung melihat nilai yang diperoleh setelah ujian selesai. Ini merupakan bentuk keterbukaan panitia sehingga proses seleksi dapat dipertanggungjawabkan secara objektif dan akuntabel,” kata Henry.

Selain melibatkan pengawas internal, Polda NTT juga menggandeng pengawas eksternal untuk memastikan seluruh tahapan seleksi berjalan sesuai ketentuan dan menghasilkan calon anggota Polri yang berkualitas.

Sebagai bentuk pelayanan kepada peserta, panitia turut menyediakan posko monitoring dan layanan konseling bagi peserta yang belum berhasil pada setiap tahapan seleksi.

Menurut Henry, layanan tersebut bertujuan membantu peserta memahami kekurangan yang perlu diperbaiki sehingga dapat mempersiapkan diri lebih baik pada seleksi tahun berikutnya.