Selain itu, ia mengingatkan tantangan global yang dihadapi dunia saat ini, mulai dari krisis iklim, konflik global, persoalan pangan, hingga ancaman disinformasi akibat perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

“Kebenaran hari ini sering ditentukan algoritma dan jumlah pengikut media sosial, bukan lagi oleh substansi kebenaran itu sendiri,” ujarnya.

Ia berharap gereja tetap menjadi ruang yang menjaga nilai kemanusiaan, kejujuran, dan perdamaian di tengah perubahan zaman.

Iklan

Toleransi di Alor Dinilai Hidup dan Nyata

Wakil Ketua Majelis Sinode Harian Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, mengatakan masyarakat Alor berhasil menunjukkan praktik toleransi yang hidup dan nyata selama pelaksanaan sidang serta perayaan HUT PGI.

“Di Alor toleransi tidak diseminarkan dan tidak di-workshop-kan, tetapi dihidupi,” kata Saneb.

Ia menyebut masyarakat menerima peserta bukan sekadar tamu, melainkan keluarga. Banyak warga membuka rumah mereka untuk tempat tinggal peserta selama kegiatan berlangsung.

Menurutnya, kebersamaan yang terbangun selama kegiatan memperlihatkan wajah gereja yang dekat dengan masyarakat dan kehidupan sehari-hari.

“Kami percaya peserta pulang bukan hanya membawa dokumen persidangan, tetapi juga membawa energi baru tentang persaudaraan dan keutuhan ciptaan,” ujarnya.