Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Kupang, RakyatNTT.ID – Guru Besar bidang arsitektur, Prof. Dr. Linda W. Fanggidae, S.T., M.T, menegaskan bahwa arsitektur tidak dapat dipahami semata sebagai bentuk fisik bangunan, melainkan sebagai refleksi dari jiwa dan perilaku manusia.
Hal ini disampaikannya dalam orasi ilmiah Rapat Senat Terbuka Pengukuhan Guru Besar Undana pada Rabu, 8 April 2026 di Grha Cendana, Kupang.
Dalam pemaparannya, Prof. Linda menjelaskan bahwa perjalanan akademiknya di bidang arsitektur telah berlangsung lebih dari tiga dekade, sejak memulai pendidikan S1 di Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Katolik Widya Mandira pada tahun 1990.
Selama kurun waktu tersebut, ia tidak hanya aktif dalam kegiatan pendidikan dan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tetapi juga terlibat dalam berbagai perumusan kebijakan di bidang arsitektur. Pengalaman tersebut memperkaya perspektifnya, baik dari sisi teori maupun praktik lapangan.
“Arsitektur sebagai ilmu terapan tidak mungkin dikuasai hanya dari balik meja atau ruang studio. Pengalaman lapangan sangat penting untuk memahami realitas yang dihadapi,” ujarnya.
Menurutnya, terdapat kesadaran mendasar yang terus menguat dalam perjalanan tersebut, yakni bahwa arsitektur bukan sekadar soal wujud fisik atau estetika semata.
“Ruang dan bangunan memang terlihat secara kasat mata, tetapi jiwa manusia yang tidak terlihat justru menjadi unsur yang menghidupkannya,” kata alumnus Universitas Gadjah Mada ini.
Ia menambahkan, seorang arsitek tidak cukup hanya memahami aspek bentuk, struktur, dan keindahan, tetapi juga harus mampu memahami aspek psikologis manusia sebagai pengguna ruang.
Dalam konteks ini, Prof Linda menyoroti pentingnya pendekatan psikologi dalam arsitektur. Ia menjelaskan bahwa ilmu psikologi, khususnya pendekatan perilaku, membantu menjembatani pemahaman tentang aspek kejiwaan manusia yang sulit diukur secara langsung.
Pendekatan ini melihat perilaku sebagai respons terhadap stimulus lingkungan, termasuk ruang yang dirancang oleh manusia. Perilaku tersebut tidak hanya berupa tindakan yang tampak, tetapi juga mencakup proses internal seperti motivasi, imajinasi, hingga rasa memiliki.
“Pendekatan ini kemudian melahirkan kajian arsitektur dan perilaku, yang memandang arsitektur sebagai relasi antara manusia dan lingkungan binaan, bukan sekadar persoalan bentuk,” jelas mantan Pembantu Dekan FST Undana 2010-2014 ini.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ruang berperan sebagai medium interaksi yang memengaruhi cara manusia bergerak, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Konsep ini dikenal dengan istilah affordances, yaitu peluang tindakan yang ditawarkan oleh lingkungan kepada manusia.
Penelitian kontemporer bahkan menunjukkan bahwa konfigurasi ruang, aksesibilitas, hingga kualitas lingkungan memiliki dampak langsung terhadap interaksi sosial dan kesejahteraan manusia.
Dengan demikian, hubungan antara manusia dan ruang bersifat timbal balik. Manusia merancang ruang, sementara ruang turut membentuk perilaku manusia melalui pengalaman yang diciptakan.
“Arsitektur yang berhasil bukan hanya yang indah secara visual, tetapi yang mampu memfasilitasi perilaku manusia secara tepat,” ungkap alumni SMAN 1 Kupang ini.
Untuk memperkuat pandangannya, Prof Linda juga menyinggung dua fenomena arsitektur sebagai pembelajaran, yakni Pruitt–Igoe yang dianggap sebagai kegagalan desain, serta Kios Angalai yang menunjukkan keberhasilan melalui kesederhanaan.
Melalui perspektif tersebut, ia menegaskan bahwa masa depan arsitektur harus semakin berorientasi pada manusia, dengan mengintegrasikan aspek perilaku, budaya, dan pengalaman dalam setiap proses perancangan.
Pruitt-Igoe, Simbol Gagalnya Arsitektur yang Abaikan Perilaku Manusia
Prof. Linda Fanggidae juga menyoroti kompleks perumahan Pruitt-Igoe di St. Louis, Amerika Serikat, sebagai contoh klasik kegagalan arsitektur modern yang mengabaikan dimensi perilaku manusia.
Dalam pemaparannya, Prof Linda menjelaskan bahwa Pruitt-Igoe dibangun pada 1955–1956 di atas lahan sekitar 23 hektar dengan 33 gedung rumah susun setinggi 11 lantai dan total 2.870 unit hunian. Proyek ini dirancang oleh arsitek ternama Minoru Yamasaki dan sempat dipuji sebagai solusi ideal untuk krisis perumahan pasca-Perang Dunia II.
Bahkan, pada 1961, proyek tersebut menerima penghargaan dari The American Institute of Architects (AIA). Namun, kejayaan itu tidak berlangsung lama.
“Dalam waktu kurang dari dua dekade, kawasan ini mengalami kemunduran drastis, baik secara sosial maupun fisik,” ungkapnya.
Pruitt-Igoe kemudian dikenal sebagai kawasan dengan tingkat vandalisme dan kriminalitas tinggi, kerusakan fasilitas, serta konflik sosial yang meluas. Pada 1968, pemerintah Amerika Serikat akhirnya memberikan izin pembongkaran, dan seluruh kompleks tersebut diratakan dengan tanah pada 1976.
Kritikus arsitektur Charles Jencks bahkan menyebut peristiwa ini sebagai “hari matinya arsitektur modern”.
Gagal Memahami Perilaku Manusia
Prof Linda menegaskan bahwa kegagalan Pruitt-Igoe tidak semata-mata terletak pada aspek teknis bangunan, melainkan pada ketidakmampuan desain dalam memahami perilaku manusia.
Dari perspektif arsitektur dan perilaku, ia menjelaskan kegagalan ini dapat dipahami melalui teori territoriality dan defensible space. Konfigurasi ruang yang terdiri dari bangunan tinggi, koridor panjang, serta ruang komunal anonim membuat penghuni tidak memiliki rasa kepemilikan terhadap lingkungan mereka.
“Ruang-ruang bersama berubah menjadi no man’s land, tidak dimiliki dan tidak diawasi, sehingga rentan terhadap penyalahgunaan,” jelas mantan ketua Jurusan Teknik Arsitektur FST Undana ini.
Lebih lanjut disebutkan, koridor, tangga, dan lift sebagai ruang kolektif tidak dapat diklaim secara personal, sehingga tidak ada tanggung jawab dari penghuni untuk merawatnya. Kondisi ini membuka peluang bagi munculnya tindakan kriminal dan vandalisme.
Ia menambahkan bahwa ruang tanpa penanda kepemilikan yang jelas cenderung diabaikan, bahkan dikuasai oleh kelompok tertentu untuk kepentingan negatif.
Paradoks Arsitektur Modern
Menurut Prof Linda, Pruitt-Igoe mencerminkan paradoks dalam arsitektur modern: unggul secara teknis dan estetika, tetapi gagal secara sosial dan fungsional.
“Kegagalan ini bukan sekadar kegagalan bangunan, tetapi kegagalan memahami jiwa manusia,” tegasnya.
Ia mempertanyakan apakah arsitektur selama ini terlalu fokus pada bentuk fisik, namun melupakan fungsi ruang sebagai wadah aktivitas dan interaksi manusia.
Pembelajaran dari Konteks Lokal
Lebih lanjut, Prof Linda mengaitkan konsep tersebut dengan hasil penelitiannya di Nusa Tenggara Timur, termasuk studi tentang arsitektur gereja GMIT.
Menurutnya, bangunan gereja tidak hanya berfungsi sebagai struktur fisik, tetapi juga sebagai ruang yang membentuk perilaku kolektif umat, mulai dari cara duduk, berdoa, hingga merasakan kebersamaan dalam ibadah.
“Elemen seperti tata ruang dan ketinggian langit-langit dirancang untuk membangun atmosfer psikologis, seperti rasa khidmat dan kerendahan diri di hadapan Tuhan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung fenomena makam di pekarangan rumah di Kota Kupang sebagai bentuk relasi antara ruang, budaya, dan makna kehidupan. Dalam hal ini, ruang tidak hanya menjadi tempat hidup, tetapi juga ruang memori dan hubungan dengan yang telah meninggal.
“Ruang bukanlah objek fisik yang mati, tetapi wadah relasi dan tempat jiwa manusia berdiam,” pungkasnya.
Melalui refleksi tersebut, Prof Linda menegaskan bahwa arsitektur masa depan harus lebih berorientasi pada manusia, dengan mengintegrasikan aspek perilaku, budaya, dan makna dalam setiap proses perancangan.
Kios Angalai: Kesederhanaan Bisa Kalahkan Arsitektur Modern
Prof. Linda juga menyoroti fenomena Kios Angalai di Kota Kupang sebagai contoh keberhasilan arsitektur berbasis perilaku manusia yang tumbuh dari kesederhanaan.
Dalam pemaparannya, Prof Linda menjelaskan bahwa arsitektur akan “hidup” ketika bertumpu pada perilaku manusia. Hal ini terlihat dari berbagai fenomena, mulai dari bangunan gereja yang membentuk ekspresi iman hingga makam di pekarangan rumah yang memelihara makna dan relasi.
Namun, menurutnya, Kios Angalai menghadirkan pelajaran paling nyata tentang keberhasilan arsitektur sederhana.
“Kios Angalai adalah bangunan kecil tanpa ambisi monumental, tetapi memiliki sesuatu yang tidak dimiliki banyak proyek besar, yaitu keberhasilan dalam kesederhanaannya,” ujar sosok kelahiran Kupang, 27 Februari 1971 ini.
Ruang Sempit, Fungsi Maksimal
Menurutnya, Kios Angalai merupakan kios pedagang kaki lima yang banyak ditemukan di Kota Kupang dan umumnya dimiliki oleh masyarakat etnis Sabu. Prof Linda mencatat terdapat hampir 300 unit kios tersebar di berbagai sudut kota.
Dengan luas sekitar 3 meter persegi, kios berbentuk panggung ini menggabungkan dua fungsi sekaligus, yakni sebagai tempat tinggal dan tempat usaha. Bahkan, banyak di antaranya bertahan hingga lebih dari dua dekade.
“Bandingkan dengan Pruitt-Igoe yang megah, tetapi tidak mampu bertahan lama,” ungkapnya.
Tumbuh dari Kebiasaan dan Budaya
Berbeda dengan proyek arsitektur modern yang dirancang secara top-down, Kios Angalai berkembang secara organik dari praktik kehidupan sehari-hari. Keterbatasan ruang justru mendorong terbentuknya pola interaksi yang jelas, rasa memiliki, serta tanggung jawab terhadap ruang.
Penelitian Prof Linda menemukan bahwa tata ruang Kios Angalai memiliki kemiripan dengan rumah tradisional etnis Sabu, yakni Amu Hawu. Tata spasial ini telah teruji secara turun-temurun dalam memfasilitasi perilaku penghuninya.
“Ketika masyarakat Sabu bermigrasi ke kota, mereka membawa pola ruang tersebut, sehingga tetap merasa ‘di rumah’ meski dalam ruang yang sangat terbatas,” jelasnya.
Teritorialitas dan Adaptasi jadi Kunci
Dalam kajian lanjutan, Prof Linda menyoroti konsep teritorialitas pada penghuni kios. Ia menegaskan bahwa teritorialitas bukan bentuk eksklusivitas, melainkan mekanisme untuk menciptakan keteraturan dan rasa aman.
Batas ruang yang jelas justru memperkuat identitas dan mendorong interaksi sosial yang sehat dengan lingkungan sekitar. Hal ini menjadi salah satu faktor keberhasilan dan keberlanjutan Kios Angalai.
Selain itu, penghuni juga menunjukkan kemampuan adaptasi tinggi terhadap keterbatasan ruang melalui berbagai penyesuaian, baik secara fisik maupun psikologis.
“Manusia tidak selalu merespons keterbatasan dengan konflik, tetapi melalui penyesuaian yang cerdas dan pragmatis,” katanya.
Kontras dengan Pruitt-Igoe
Prof Linda menegaskan bahwa Kios Angalai menjadi antitesis dari Pruitt-Igoe, kompleks perumahan modern di Amerika Serikat yang gagal karena mengabaikan aspek perilaku manusia.
Jika Pruitt-Igoe runtuh meski megah dan modern, maka Kios Angalai justru bertahan dalam kesederhanaan karena dibangun berdasarkan kebiasaan dan nilai budaya.
“Yang megah bisa gagal, yang sederhana bisa berhasil. Bukan karena modern atau tradisional, tetapi karena apakah arsitektur itu memahami perilaku manusia atau tidak,” tegasnya.
Implikasi bagi Dunia Arsitektur
Dari temuan tersebut, Prof Linda menekankan pentingnya pendekatan berbasis perilaku dalam pendidikan dan praktik arsitektur. Ia menyebut bahwa arsitektur tidak hanya soal estetika dan teknik, tetapi juga tentang empati dan pemahaman terhadap manusia.
Mahasiswa arsitektur, menurutnya, perlu dibekali tidak hanya dengan sense of aesthetic, tetapi juga sense of humanity untuk memahami konteks sosial dan budaya pengguna ruang.
Lebih luas, ia juga menilai bahwa local wisdom atau kearifan lokal memiliki keunggulan karena lahir dari kebiasaan dan nilai yang telah teruji dalam komunitas.
“Perilaku membentuk kebiasaan, kebiasaan membentuk budaya, dan dari situlah lahir kearifan lokal. Ini yang membuatnya bertahan,” jelasnya.
Prof Linda menutup dengan menegaskan bahwa arsitektur sejatinya bukan hanya tentang membangun fisik, tetapi menghadirkan ruang yang mampu menghidupkan manusia.
“Arsitektur yang baik adalah arsitektur yang memungkinkan manusia hidup, berinteraksi, dan bertumbuh di dalamnya,” pungkasnya.
Biodata Lengkap
Identitas Pribadi
- Nama Lengkap: Prof. Dr. Linda Welmintje Fanggidae, S.T., M.T.
- Pangkat/Golongan: Pembina Utama Muda / IVc
- Tempat, Tanggal Lahir: Kupang, 27 Februari 1971
Identitas Keluarga
- Orang tua: Ayah – Drs. Abia Matheos Fanggidae (alm.)
Ibu – Dra. Yuliana Alexandrina Fanggidae-Bulakh (almh.) - Nama Suami: Maurits Eikers Floris, S.Pd, M.M.
- Anak: Claudio Pieter Abia Floris
Riwayat Pendidikan
- Sekolah Dasar: SD Negeri Naikoten 1 (1983)
- Sekolah Menengah Pertama: SMP Negeri 2 Kupang (1986)
- Sekolah Menengah Atas: SMA Negeri 1 Kupang (1989)
- S1: Universitas Katolik Widya Mandira Kupang (1998)
- S2: Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2002)
- S3: Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2020)
Riwayat Jabatan dalam Institusi
- Sekretaris Jurusan Jurusan Teknik Sipil FST Undana 2006-2007
- Ketua Jurusan Jurusan Teknik Arsitektur FST Undana 2007-2010 dan 2014-2015
- Pembantu Dekan Bidang Akademik FST Undana 2010-2014
(rnc)
