PEMBANGUNAN infrastruktur sering diposisikan sebagai wajah kemajuan daerah. Namun di Kabupaten Sabu Raijua, wajah itu masih tampak timpang. Di satu sisi, kebutuhan masyarakat terhadap akses jalan, transportasi laut, dan distribusi logistik terus meningkat. Di sisi lain, kemampuan anggaran daerah belum mampu menjawab tuntutan tersebut secara memadai.

Sebagai daerah kepulauan di Nusa Tenggara Timur, Sabu Raijua menghadapi tantangan geografis yang tidak ringan. Konektivitas antarwilayah sangat bergantung pada transportasi laut, sementara kondisi infrastruktur dasar seperti jalan dan pelabuhan masih terbatas.

Di beberapa wilayah, jalan penghubung antar desa belum sepenuhnya layak, terutama saat musim hujan yang memperparah kerusakan. Hal ini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat yang sebagian besar bergantung pada distribusi hasil pertanian dan perikanan.

Iklan

Persoalan ini semakin kompleks ketika dikaitkan dengan distribusi bahan bakar minyak (BBM). Pasokan BBM hanya bisa dikirim menggunakan kapal dari Kupang, sehingga ketika terjadi cuaca buruk atau gangguan jadwal pelayaran, distribusi langsung terhambat. Bahkan pada 2025, distribusi sempat terganggu karena kapal pengangkut BBM harus melayani beberapa rute sekaligus tanpa penambahan kapasitas, sehingga pasokan ke Sabu Raijua berkurang.