Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp RakyatNTT.ID
+ Gabung
Dampaknya sangat nyata di masyarakat. Kelangkaan BBM berulang kali terjadi, bahkan hingga beberapa minggu. Pada awal 2026, misalnya, stok BBM dilaporkan habis di beberapa SPBU, sehingga masyarakat kesulitan memperoleh bahan bakar.
Ketika stok langka, harga di tingkat eceran melonjak jauh di atas harga resmi. BBM jenis Pertamax pernah dijual sekitar Rp30.000 per botol (±1,5 liter), bahkan ada laporan mencapai Rp35.000–Rp40.000 dalam kondisi tertentu. Angka ini jauh melampaui harga normal nasional yang berkisar sekitar Rp12.000 per liter.
Akibatnya, harga BBM di tingkat masyarakat sering kali lebih tinggi dari harga normal, bahkan bisa mengalami kelangkaan pada waktu tertentu. Kondisi ini memperlihatkan bahwa lemahnya infrastruktur tidak hanya berdampak pada mobilitas, tetapi juga pada stabilitas ekonomi lokal.
Dari sisi fiskal, kapasitas anggaran daerah menjadi kendala utama. Pendapatan Asli Daerah (PAD) Sabu Raijua masih relatif rendah, sehingga ketergantungan terhadap dana transfer dari pemerintah pusat sangat tinggi. Fakta fiskal yang terjadi di lapangan sesuatu data APBD terbaru menunjukkan bahwa kapasitas PAD daerah ini masih sangat terbatas.
Pada tahun 2024, total pendapatan daerah sekitar Rp649 miliar, tetapi PAD hanya sekitar Rp36,7 miliar—atau kurang lebih 5–6% dari total pendapatan. Sebaliknya, dana transfer dari pemerintah pusat mencapai lebih dari Rp583 miliar, yang berarti mendominasi lebih dari 80% struktur pendapatan daerah. Konsekuensinya, ruang fiskal untuk pembangunan infrastruktur menjadi terbatas dan harus dibagi dengan kebutuhan lain seperti belanja pegawai dan layanan dasar.




WA Channel
Ikuti Kami
Subscribe

